Hotel Yamato Sekarang Menjadi Ikon Wisata Sejarah di Surabaya
Kondisi hotel yamato sekarang telah mengalami transformasi yang luar biasa tanpa menghilangkan esensi sejarahnya yang kental. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga Surabaya, bangunan yang terletak di Jalan Tunjungan ini bukan sekadar tempat menginap mewah, melainkan monumen hidup dari perjuangan merebut kemerdekaan. Gedung yang kini dikenal secara resmi sebagai Hotel Majapahit Surabaya MGallery tersebut tetap berdiri kokoh dengan arsitektur kolonial yang terawat sangat baik, mengundang siapa saja untuk masuk ke dalam lorong waktu menuju tahun 1945.
Bangunan ini masih mempertahankan estetika aslinya yang mengusung gaya Art Nouveau dan Art Deco. Saat Anda melangkah masuk, suasana tenang dengan taman-taman yang asri akan menyambut, sangat kontras dengan hiruk-pikuk Jalan Tunjungan di luar sana. Pemerintah Kota Surabaya bersama manajemen hotel terus berkomitmen menjaga kelestarian setiap sudut bangunan ini karena nilai historisnya yang tak ternilai harganya bagi bangsa Indonesia.

Transformasi Nama dan Sejarah Panjang Hotel Yamato
Mengetahui identitas hotel yamato sekarang tidak lengkap jika tidak memahami pergantian namanya yang berkali-kali mengikuti perkembangan zaman dan situasi politik di Indonesia. Dibangun pertama kali oleh keluarga Sarkies yang legendaris, hotel ini awalnya diberi nama Hotel Oranje. Nama Yamato sendiri sebenarnya hanya digunakan dalam periode singkat selama pendudukan Jepang di Indonesia.
Perubahan nama ini mencerminkan dinamika kekuasaan yang pernah terjadi di tanah air. Berikut adalah ringkasan perjalanan transformasi nama hotel tersebut dari masa ke masa agar memudahkan Anda memahami sejarahnya secara kronologis:
| Tahun | Nama Hotel | Era Pemerintahan/Konteks |
|---|---|---|
| 1910 - 1942 | Hotel Oranje | Hindia Belanda (Didirikan oleh Sarkies Brothers) |
| 1942 - 1945 | Hotel Yamato | Pendudukan Militer Jepang |
| 1945 - 1946 | Hotel Merdeka | Pasca Proklamasi Kemerdekaan |
| 1946 - 1969 | L.M.S. Hotel | Kembali ke Manajemen Lucas Martin Sarkies |
| 1969 - Sekarang | Hotel Majapahit | Nasionalisasi dan Modernisasi |
Keluarga Sarkies, yang juga membangun Raffles Hotel di Singapura, merancang gedung ini dengan kemewahan yang sulit tertandingi pada zamannya. Meskipun telah berganti kepemilikan beberapa kali, struktur utama bangunan tidak banyak berubah, sehingga pengunjung masih bisa melihat detail ubin, jendela, dan koridor yang sama dengan yang ada pada puluhan tahun silam.
Insiden Bendera dan Signifikansi Historisnya
Salah satu alasan mengapa banyak orang mencari tahu tentang hotel yamato sekarang adalah karena peristiwa ikonik pada 19 September 1945. Di hotel inilah terjadi aksi heroik perobekan warna biru pada bendera Belanda oleh para pemuda Surabaya. Kejadian tersebut bermula ketika sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. Ploegman mengibarkan bendera Merah-Putih-Biru di atas tiang bendera hotel.
"Keberanian para pemuda Surabaya di Hotel Yamato adalah bukti bahwa kemerdekaan tidak diberikan secara cuma-cuma, melainkan direbut dengan darah dan harga diri yang tinggi." - Catatan Sejarawan Lokal.
Hingga saat ini, tiang bendera yang menjadi saksi bisu peristiwa tersebut masih dipertahankan di lokasi aslinya. Pengelola hotel bahkan menyediakan akses khusus bagi pengunjung yang ingin melihat lebih dekat area bersejarah tersebut. Setiap tahunnya, di depan hotel ini sering diadakan drama kolosal yang merefleksikan kembali peristiwa perobekan bendera tersebut untuk mengedukasi generasi muda mengenai nilai patriotisme.

Arsitektur Art Deco yang Terjaga dengan Baik
Berbicara mengenai hotel yamato sekarang berarti juga mengagumi estetika bangunannya. Hotel Majapahit saat ini merupakan salah satu contoh terbaik arsitektur Art Deco yang masih berfungsi penuh di Indonesia. Langit-langit yang tinggi, penggunaan lampu gantung kristal yang elegan, serta furnitur kayu jati yang berat memberikan kesan mewah sekaligus misterius.
Kamar-kamar di hotel ini juga dirancang untuk membawa tamu merasakan atmosfer tahun 1930-an. Beberapa kamar suite bahkan dinamai sesuai dengan nama tokoh-tokoh penting atau pendirinya, seperti Sarkies Suite. Kamar-kamar ini memiliki balkon yang menghadap langsung ke taman dalam (inner courtyard) yang memberikan privasi dan ketenangan luar biasa di tengah hiruk-pikuk pusat kota Surabaya.
Kamar Ikonik dan Presidential Suite
Salah satu daya tarik utama dari hotel yamato sekarang adalah Presidential Suite-nya yang diklaim sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Kamar ini sering digunakan oleh tamu negara, selebriti internasional, dan tokoh-tokoh penting yang berkunjung ke Surabaya. Dengan luas mencapai lebih dari 800 meter persegi, suite ini menawarkan kemewahan tiada tara dengan dekorasi yang tetap setia pada gaya klasik kolonial.
- Desain Klasik: Menggunakan material berkualitas tinggi seperti marmer dan kayu pilihan.
- Privasi Terjamin: Memiliki akses masuk tersendiri yang berbeda dari tamu reguler.
- Pemandangan Taman: Jendela besar yang menghadap langsung ke taman-taman asri di bagian dalam hotel.
Fasilitas Modern dalam Balutan Nuansa Klasik
Meskipun statusnya adalah bangunan cagar budaya, hotel yamato sekarang tidak ketinggalan dalam hal fasilitas modern. Sebagai bagian dari jaringan MGallery oleh Accor, hotel ini menawarkan standar pelayanan internasional bintang lima. Tamu dapat menikmati fasilitas spa yang mewah, kolam renang terbuka yang dikelilingi arsitektur klasik, serta pusat kebugaran yang modern.
Restoran di dalam hotel juga menjadi destinasi kuliner yang populer. Indigo Restaurant menyajikan perpaduan hidangan lokal Surabaya dengan sentuhan internasional, sementara Sarkies Seafood Restaurant menawarkan hidangan laut dengan cita rasa autentik. Tea time di The Maj Pub atau lobby lounge juga merupakan aktivitas yang sangat direkomendasikan bagi pengunjung yang ingin merasakan suasana sore yang elegan khas era kolonial.

Lokasi Strategis di Pusat Jantung Kota
Keuntungan lain dari hotel yamato sekarang adalah lokasinya yang berada tepat di jantung kota Surabaya, yaitu Jalan Tunjungan. Kawasan ini telah direvitalisasi oleh pemerintah kota menjadi zona wisata jalan kaki yang sangat menarik. Di malam hari, lampu-lampu hias menerangi jalanan ini, menjadikannya tempat yang sangat Instagramable dan menyenangkan untuk berjalan-jalan sore.
Dari hotel ini, tamu dapat dengan mudah menjangkau berbagai pusat perbelanjaan besar seperti Tunjungan Plaza, gedung pemerintahan, hingga kantor-kantor bisnis utama. Aksesibilitas yang mudah menjadikannya pilihan utama baik bagi pelancong bisnis maupun wisatawan yang ingin mengeksplorasi kekayaan budaya dan sejarah Surabaya.
- Dekat dengan Monumen Kapal Selam (Monkasel).
- Hanya berjarak beberapa menit dari Tugu Pahlawan.
- Akses mudah menuju Jembatan Merah yang legendaris.
Menjaga Warisan Sejarah di Tengah Modernitas Surabaya
Eksistensi hotel yamato sekarang membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus mengubur jejak sejarah. Melalui pengelolaan yang tepat sebagai Hotel Majapahit, bangunan ini berhasil mempertahankan relevansinya sebagai destinasi wisata sejarah sekaligus akomodasi kelas atas. Bagi siapa pun yang ingin merasakan bagaimana rasanya berada di titik sentral perjuangan bangsa sembari menikmati fasilitas mewah, menginap atau sekadar berkunjung ke sini adalah sebuah keharusan.
Ke depannya, tantangan bagi pengelola dan masyarakat adalah memastikan bahwa nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalam tembok-tembok putih hotel ini tetap tersampaikan kepada generasi penerus. Dengan statusnya sebagai bangunan cagar budaya, hotel yamato sekarang tetap akan menjadi kebanggaan Surabaya dan simbol ketangguhan bangsa Indonesia dalam mempertahankan identitas dan harga dirinya di mata dunia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow