Kaesong North Korea Merupakan Saksi Sejarah Kejayaan Dinasti Goryeo

Kaesong North Korea Merupakan Saksi Sejarah Kejayaan Dinasti Goryeo

Smallest Font
Largest Font

Kaesong North Korea merupakan sebuah kota yang menyimpan lapisan sejarah mendalam, jauh sebelum garis demarkasi memisahkan semenanjung Korea menjadi dua bagian. Terletak hanya beberapa kilometer dari Zona Demiliterisasi (DMZ), kota ini bukan sekadar pusat industri yang sering muncul dalam berita geopolitik, melainkan jantung budaya yang pernah menjadi ibu kota Dinasti Goryeo selama hampir lima ratus tahun. Keunikan Kaesong terletak pada kemampuannya bertahan dari kehancuran Perang Korea, menjadikannya salah satu dari sedikit tempat di Korea Utara di mana arsitektur kuno dan tata kota tradisional masih terjaga dengan autentik.

Memasuki wilayah Kaesong North Korea seolah melakukan perjalanan melintasi waktu. Di sini, pengunjung tidak hanya disuguhi monumen ideologi modern, tetapi juga diajak menyelami kejayaan intelektual dan spiritual masa lalu. Sebagai pusat pendidikan Konfusianisme dan perdagangan internasional pada masa silam, Kaesong menawarkan perspektif yang sangat berbeda mengenai identitas bangsa Korea. Melalui artikel ini, kita akan membedah mengapa kota ini menjadi begitu krusial, mulai dari statusnya sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO hingga perannya dalam upaya rekonsiliasi ekonomi di era modern.

Sejarah Panjang Kaesong sebagai Ibu Kota Dinasti Goryeo

Puncak kejayaan Kaesong North Korea dimulai ketika Wang Geon mendirikan Dinasti Goryeo pada tahun 918 Masehi. Kota ini, yang kala itu dikenal dengan nama Gaegyeong, dipilih karena lokasi strategisnya yang dikelilingi oleh pegunungan pelindung dan akses ke laut melalui pelabuhan terdekat. Selama berabad-abad, kota ini menjadi pusat inovasi, termasuk tempat lahirnya teknik cetak logam pertama di dunia dan produksi keramik celadon yang sangat termasyhur hingga ke mancanegara.

Struktur kota dirancang dengan filosofi geomansi (Pungsu) yang sangat kental, di mana bangunan-bangunan penting diletakkan selaras dengan kontur alam. Meskipun Dinasti Joseon kemudian memindahkan ibu kota ke Hanyang (sekarang Seoul), Kaesong tetap mempertahankan statusnya sebagai kota perdagangan dan pendidikan yang prestisius. Banyak cendekiawan besar Korea lahir dan menimba ilmu di akademi-akademi yang tersebar di sudut-sudut kota ini, memperkuat posisi Kaesong North Korea sebagai mercusuar peradaban.

Daftar Situs Warisan Dunia UNESCO di Kaesong

Pada tahun 2013, UNESCO secara resmi mengakui signifikansi sejarah kota ini dengan menetapkan Monumen dan Situs Bersejarah di Kaesong sebagai Situs Warisan Dunia. Berikut adalah beberapa lokasi yang menjadi bagian dari pengakuan internasional tersebut:

Nama SitusDeskripsi SingkatTahun Pembangunan
Istana ManwoldaeReruntuhan istana kerajaan utama Dinasti Goryeo.Abad ke-10
Museum KoryoBekas akademi Konfusianisme (Seonggyungwan).Abad ke-11
Jembatan SonjukSaksi bisu pembunuhan sarjana besar Jeong Mong-ju.1216
Makam Raja KongminMakam megah dengan detail pahatan batu yang halus.1365
Gerbang NamdaemunGerbang selatan kuno yang masih berdiri kokoh.1391
Museum Koryo di Kaesong North Korea yang menampilkan arsitektur tradisional Goryeo
Museum Koryo yang dulunya merupakan universitas Konfusianisme tertua di Korea, kini menjadi pusat edukasi sejarah di Kaesong North Korea.

Kompleks Industri Kaesong dan Simbol Rekonsiliasi

Di balik kemegahan sejarahnya, Kaesong North Korea juga dikenal di panggung global karena Kompleks Industri Kaesong (KIC). Proyek ambisius ini dimulai pada awal tahun 2000-an sebagai hasil dari kebijakan "Sunshine Policy" antara Korea Utara dan Korea Selatan. Wilayah ini dirancang sebagai zona ekonomi khusus di mana perusahaan-perusahaan Korea Selatan dapat mendirikan pabrik dan mempekerjakan ribuan buruh dari Korea Utara, menggabungkan modal dan teknologi Selatan dengan tenaga kerja dan lahan dari Utara.

Selama bertahun-tahun, zona industri ini dianggap sebagai barometer hubungan antar-Korea. Ketika operasional berjalan lancar, ia menjadi simbol harapan akan penyatuan kembali di masa depan. Namun, ketegangan politik seringkali membuat aktivitas di kompleks ini terhenti. Sejak penutupannya secara total pada tahun 2016, kompleks ini berdiri sebagai pengingat akan kompleksitas hubungan geopolitik di semenanjung tersebut. Meski demikian, infrastruktur yang ada tetap menjadi aset penting bagi ekonomi Kaesong North Korea di masa mendatang.

"Kaesong bukan sekadar titik koordinat di peta, melainkan jembatan hidup antara masa lalu yang agung dan masa depan yang penuh ketidakpastian namun tetap menyimpan harapan akan perdamaian."

Pengalaman Wisata dan Kuliner Tradisional di Kaesong

Berbeda dengan Pyongyang yang penuh dengan bangunan megah bergaya sosialis, Kaesong North Korea menawarkan suasana yang lebih tenang dan membumi. Wisatawan yang berkesempatan berkunjung biasanya akan diajak berjalan kaki menyusuri jalanan berbatu di pemukiman tradisional. Salah satu daya tarik utama adalah kesempatan untuk menginap di Kaesong Folk Hotel, sebuah kompleks rumah tradisional (Hanok) yang memungkinkan tamu merasakan gaya hidup masyarakat Korea zaman dahulu tanpa meninggalkan kenyamanan dasar.

Sektor kuliner juga menjadi aspek yang tak boleh dilewatkan. Kota ini terkenal dengan Pansanggi, yaitu set hidangan tradisional yang disajikan dalam mangkuk perunggu kecil. Jumlah mangkuk yang disajikan mencerminkan status sosial seseorang di masa lalu, mulai dari 9 hingga 12 jenis masakan yang berbeda. Selain itu, Kaesong adalah pusat produksi ginseng terbaik di dunia. Kaesong Goryeo Insam (ginseng) telah diekspor selama berabad-abad dan dipercaya memiliki khasiat kesehatan yang luar biasa karena kondisi tanah dan iklim wilayah ini yang unik.

Hidangan tradisional Pansanggi di Kaesong North Korea
Penyajian makanan tradisional Pansanggi menggunakan peralatan perunggu, tradisi yang terus dilestarikan di Kaesong North Korea.

Tips Mengunjungi Kaesong bagi Wisatawan Mancanegara

  • Akses: Perjalanan ke Kaesong biasanya dilakukan melalui tur resmi dari Pyongyang menggunakan bus selama sekitar 2-3 jam.
  • Dokumentasi: Selalu ikuti instruksi pemandu wisata mengenai area mana saja yang boleh difoto, terutama saat mendekati wilayah militer DMZ.
  • Cendera Mata: Ginseng dan kerajinan keramik adalah produk unggulan yang layak dibeli langsung dari sumbernya di Kaesong.
  • Etika: Menunjukkan rasa hormat terhadap situs-situs sejarah dan budaya sangat diapresiasi oleh masyarakat setempat.
Jembatan Sonjuk di Kaesong sebagai situs bersejarah penting
Jembatan Sonjuk, tempat yang sangat dihormati di Kaesong North Korea karena nilai sejarah dan kesetiaan sarjana Jeong Mong-ju.

Harapan Baru di Balik Gerbang Kota Tua Kaesong

Melihat jauh ke depan, masa depan Kaesong North Korea tampaknya akan terus berada di persimpangan antara pelestarian budaya dan modernisasi ekonomi. Sebagai kota yang paling dekat dengan perbatasan Korea Selatan, setiap perubahan kecil dalam diplomasi internasional akan berdampak langsung pada kehidupan di sini. Namun, satu hal yang pasti, identitas Kaesong sebagai pusat peradaban Goryeo tidak akan pernah luntur oleh dinamika politik jangka pendek.

Vonis akhir bagi para pengamat sejarah dan wisatawan adalah bahwa kota ini tetap menjadi destinasi paling autentik untuk memahami akar kebudayaan Korea secara utuh. Jika suatu saat nanti pintu perbatasan terbuka lebih lebar, Kaesong diprediksi akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan pariwisata utama di Asia Timur. Bagi siapa pun yang ingin memahami esensi dari ketangguhan sebuah bangsa yang terjepit di antara tradisi dan modernitas, mengamati perkembangan Kaesong North Korea adalah sebuah keharusan yang memberikan wawasan mendalam melampaui sekadar berita utama di media massa.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow