Menelusuri Sejarah Kampung Ketandan Surabaya yang Autentik

Menelusuri Sejarah Kampung Ketandan Surabaya yang Autentik

Smallest Font
Largest Font

Menjelajahi **Kampung Ketandan Surabaya** memberikan sensasi seperti melintasi lorong waktu yang memisahkan antara hiruk-pikuk modernitas metropolitan dengan ketenangan masa lalu. Tersembunyi di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan di kawasan **Tunjungan**, kampung ini berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang sejarah Kota Pahlawan. Sebagai salah satu permata tersembunyi yang masih bertahan, Ketandan menawarkan narasi tentang keberagaman budaya dan keteguhan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur. Banyak wisatawan yang mungkin sering melewati Jalan Tunjungan tanpa menyadari bahwa tepat di belakang fasad toko-toko modern tersebut, terdapat sebuah kawasan pemukiman yang memiliki nilai historis sangat tinggi. **Kampung Ketandan Surabaya** bukan sekadar pemukiman padat penduduk biasa; ia adalah fragmen sejarah yang mencerminkan bagaimana kehidupan urban Surabaya bermula, tumbuh, dan beradaptasi dengan perubahan zaman yang sangat cepat.

Jejak Sejarah dan Asal-Usul Kampung Ketandan Surabaya

Nama Ketandan berasal dari kata "Tanda", yang merujuk pada jabatan **Tondo** atau pejabat setingkat lurah pada masa Kesultanan Mataram atau era pemerintahan kolonial awal. Dahulu, kawasan ini merupakan tempat tinggal para pejabat administrasi pasar atau penarik pajak yang ditunjuk oleh pemerintah. Hal ini membuktikan bahwa sejak berabad-abad lalu, kawasan ini sudah menjadi pusat aktivitas ekonomi dan administratif yang vital bagi Surabaya. Secara geografis, **Kampung Ketandan Surabaya** terletak sangat strategis di area yang dikenal sebagai Segitiga Emas Surabaya, yakni di antara Jalan Tunjungan, Jalan Embong Malang, dan Jalan Praban. Keberadaannya di tengah pusat bisnis utama menjadikan kampung ini memiliki keunikan tersendiri, di mana struktur bangunan kuno bersanding kontras dengan dinding kaca hotel berbintang. Sejarah mencatat bahwa kawasan ini merupakan salah satu titik awal perkembangan masyarakat perkotaan di Surabaya sebelum meluas ke daerah pinggiran lainnya.

Arsitektur bangunan kuno di Kampung Ketandan Surabaya
Salah satu rumah dengan arsitektur perpaduan kolonial dan tradisional di dalam kawasan Kampung Ketandan Surabaya.

Arsitektur yang Mencerminkan Akulturasi Budaya

Salah satu daya tarik utama saat memasuki lorong-lorong sempit di **Kampung Ketandan Surabaya** adalah keragaman arsitektur bangunannya. Di sini, pengunjung dapat menemukan jejak-jejak pengaruh arsitektur Belanda, Tionghoa, dan tradisional Jawa yang melebur menjadi satu. Beberapa rumah tua masih mempertahankan bentuk aslinya, lengkap dengan langit-langit tinggi, jendela kayu yang lebar, dan lantai tegel motif yang sangat khas.

"Kampung Ketandan adalah laboratorium hidup bagi para arsitek dan sejarawan untuk mempelajari bagaimana masyarakat Surabaya di masa lalu menggabungkan nilai estetika fungsional dengan kearifan lokal dalam membangun tempat tinggal."—Catatan Sejarawan Lokal.

Keberadaan gaya arsitektur **Jengki** yang populer pada tahun 1950-an juga bisa ditemukan di beberapa sudut kampung. Gaya ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap gaya arsitektur kolonial yang dianggap terlalu kaku. Di Ketandan, setiap bangunan seolah memiliki cerita sendiri tentang siapa pemiliknya dahulu dan bagaimana mereka berperan dalam dinamika sosial kota.

Masjid An-Nur: Landmark Spiritual Tertua

Di tengah pemukiman ini, berdiri **Masjid An-Nur Ketandan** yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Surabaya, bahkan konon sudah ada sejak masa dakwah **Sunan Ampel**. Masjid ini menjadi pusat kegiatan sosial dan keagamaan bagi warga setempat. Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi, nuansa spiritual dan historisnya tetap terasa sangat kental, terutama saat melihat struktur utama yang masih mempertahankan elemen-elemen kayu kuno. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga simbol pemersatu warga. Di sinilah berbagai lapisan masyarakat, mulai dari keturunan Jawa, Madura, hingga peranakan Tionghoa, berinteraksi secara harmonis selama berabad-abad. Keberadaan masjid ini di tengah kampung mempertegas identitas Ketandan sebagai kawasan yang religius namun tetap terbuka terhadap perbedaan.

Data dan Informasi Wisata Kampung Ketandan Surabaya

Untuk memudahkan pengunjung yang ingin mengeksplorasi kawasan ini, berikut adalah tabel ringkasan mengenai informasi penting terkait **Kampung Ketandan Surabaya**:

Aspek Informasi Detail Keterangan
Lokasi Utama Masuk melalui Jalan Tunjungan atau Jalan Embong Malang
Landmark Utama Masjid An-Nur Ketandan & Balai RW Klasik Aktivitas Populer Wisata Sejarah, Fotografi Arsitektur, Kuliner Lokal Biaya Masuk Gratis (Terbuka untuk Umum) Waktu Terbaik Pagi hari (08:00 - 10:00) atau Sore hari (15:00 - 17:00)
Masjid An-Nur yang berada di dalam Kampung Ketandan Surabaya
Masjid An-Nur yang menjadi landmark spiritual dan sejarah di jantung Kampung Ketandan Surabaya.

Potensi Wisata Budaya dan Urban Heritage

Pemerintah Kota Surabaya telah menetapkan **Kampung Ketandan Surabaya** sebagai salah satu kawasan **Cagar Budaya**. Langkah ini diambil untuk melindungi nilai-nilai historis yang ada agar tidak hilang tergerus oleh pembangunan gedung komersial yang masif di sekitarnya. Program revitalisasi kampung secara berkala dilakukan dengan memperbaiki infrastruktur jalan (paving), pengecatan dinding dengan mural bertema sejarah, serta pemberian papan informasi di depan rumah-rumah yang memiliki nilai sejarah tinggi. Bagi para pecinta fotografi, Ketandan adalah surga yang menawarkan sudut-sudut visual yang sangat estetis. Kontras antara dinding bata merah tua dengan latar belakang gedung pencakar langit kaca memberikan komposisi foto yang dramatis. Selain itu, interaksi sosial warga yang masih memegang teguh budaya ramah-tamah khas Surabaya menjadi daya tarik tersendiri yang sulit ditemukan di area komersial Jalan Tunjungan.

  • Wisata Edukasi: Sangat cocok bagi pelajar dan mahasiswa untuk mempelajari sejarah perkotaan.
  • Spot Fotografi: Memiliki banyak latar belakang unik yang memadukan elemen kuno dan modern.
  • Kuliner Tradisional: Di sela-sela gang, pengunjung dapat menemukan penjual makanan khas Surabaya dengan harga yang sangat terjangkau.
  • Aksesibilitas: Mudah dijangkau karena berada tepat di pusat transportasi dan pariwisata kota.
Warga beraktivitas di Kampung Ketandan Surabaya
Interaksi hangat warga di lorong Kampung Ketandan yang menunjukkan sisi humanis Kota Surabaya.

Tips Berkunjung ke Kawasan Ketandan

Jika Anda berencana mengunjungi **Kampung Ketandan Surabaya**, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pengalaman wisata Anda lebih maksimal. Pertama, karena ini adalah kawasan pemukiman aktif, sangat penting untuk menjaga sopan santun dan tidak mengganggu privasi warga sekitar. Mintalah izin terlebih dahulu jika Anda ingin mengambil foto secara detail dari sebuah rumah pribadi. Kedua, gunakan pakaian yang nyaman dan alas kaki yang tepat untuk berjalan kaki, karena Anda akan lebih banyak mengeksplorasi gang-gang sempit yang tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Ketiga, cobalah berkunjung saat ada acara komunitas atau festival kampung, di mana warga biasanya menampilkan pertunjukan seni tradisional yang semakin memperkuat atmosfer sejarah di tempat ini. Selain itu, pastikan untuk membawa kamera dengan lensa yang mumpuni untuk menangkap detail-detail arsitektur yang seringkali terlewatkan. Jangan lupa untuk mencicipi kuliner rumahan yang dijajakan warga setempat, karena rasanya seringkali lebih otentik dibandingkan makanan di restoran besar.

Menjaga Warisan Ketandan untuk Masa Depan Kota

Keberadaan **Kampung Ketandan Surabaya** di tengah gempuran modernisasi adalah pengingat penting bahwa sebuah kota besar tidak boleh melupakan akarnya. Konservasi kawasan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga masyarakat luas dan para wisatawan yang datang berkunjung. Dengan menghargai setiap sudut sejarah yang ada, kita turut berpartisipasi dalam menjaga identitas budaya yang menjadi ruh bagi Surabaya sebagai kota yang berkarakter. Pada akhirnya, mengunjungi **Kampung Ketandan Surabaya** bukan sekadar berwisata, melainkan sebuah bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang peradaban urban. Rekomendasi utama bagi para pengambil kebijakan adalah terus mengintegrasikan kampung-kampung sejarah ini ke dalam paket wisata besar "Tunjungan Romansa", namun tetap dengan kontrol ketat agar esensi kehidupan asli kampung tidak hilang menjadi sekadar komoditas komersial. Masa depan Ketandan terletak pada keseimbangan antara pelestarian fisik bangunan dan kesejahteraan sosial masyarakat yang menghuninya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow