Peninggalan Kerajaan Pajajaran yang Menjadi Saksi Sejarah Sunda

Peninggalan Kerajaan Pajajaran yang Menjadi Saksi Sejarah Sunda

Smallest Font
Largest Font

Menelusuri jejak sejarah di tanah Pasundan tidak akan pernah lengkap tanpa membahas eksistensi Pakuan Pajajaran. Sebagai salah satu kerajaan Hindu-Buddha terakhir di Pulau Jawa, peninggalan kerajaan pajajaran bukan sekadar bongkahan batu atau naskah usang, melainkan representasi identitas dan kebanggaan masyarakat Sunda hingga hari ini. Kerajaan yang mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja ini meninggalkan warisan intelektual dan fisik yang tersebar di wilayah Bogor, Ciamis, hingga Jakarta.

Memahami warisan ini membutuhkan ketelitian karena banyak bukti arkeologis yang telah tertimbun oleh modernisasi perkotaan, terutama di wilayah Bogor yang dulunya merupakan pusat ibu kota. Namun, melalui kerja keras para arkeolog dan pemeliharaan masyarakat adat, kita masih bisa menyaksikan kemegahan sistem pemerintahan, religi, dan sosial yang dianut oleh leluhur Sunda. Artikel ini akan membedah secara mendalam berbagai artefak, prasasti, dan situs yang membuktikan keberadaan kerajaan besar yang melegenda dengan sosok Prabu Siliwangi tersebut.

Prasasti Batutulis dan Pesan Abadi Sri Baduga Maharaja

Salah satu bukti paling autentik dan fenomenal dari peninggalan kerajaan pajajaran adalah Prasasti Batutulis yang terletak di Jalan Batutulis, Bogor. Prasasti ini tidak hanya sekadar penanda sejarah, tetapi juga merupakan monumen penghormatan yang dibuat oleh Prabu Surawisesa untuk mengenang ayahnya, Sri Baduga Maharaja. Ditulis menggunakan aksara Sunda Kuno dan bahasa Sunda Kuno, batu tulis ini memberikan informasi krusial mengenai silsilah dan pencapaian besar sang raja.

"Semoga selamat, ini tanda peringatan bagi Prabu Ratu Purana Prebu Visesa, ia adalah anak Prabu Siliwangi, Sang Ratu Dewata yang bertahta di Pakuan."

Dalam teks prasasti tersebut, disebutkan bahwa Sri Baduga Maharaja melakukan banyak pembangunan infrastruktur demi kesejahteraan rakyatnya. Beliau membangun parit pertahanan, membuat telaga buatan bernama Sanghyang Talaga Warna, dan memperkeras jalanan ibu kota. Prasasti ini menjadi rujukan utama bagi para sejarawan untuk memetakan lokasi Pakuan Pajajaran yang sempat menjadi misteri selama berabad-abad.

Prasasti Batutulis Bogor peninggalan Pajajaran
Prasasti Batutulis di Bogor yang memuat ukiran aksara Sunda Kuno mengenai kejayaan Sri Baduga Maharaja.

Situs Karangkamulyan dan Jejak Awal di Ciamis

Meskipun pusat pemerintahan terakhir berada di Bogor, akar dari Pajajaran tidak bisa dilepaskan dari Kerajaan Galuh di Ciamis. Situs Karangkamulyan merupakan area arkeologi seluas 25 hektar yang menyimpan berbagai artefak penting. Tempat ini diyakini sebagai pusat pemerintahan pada masa Prabu Ciung Wanara. Di sini, pengunjung bisa menemukan struktur batu yang memiliki fungsi beragam, mulai dari tempat pemujaan hingga tempat musyawarah.

Beberapa objek penting di Karangkamulyan antara lain adalah Sanghyang Bedil, Panyabungan Ayam, dan Cikahuripan. Keberadaan situs ini membuktikan bahwa peninggalan kerajaan pajajaran memiliki kaitan erat dengan tradisi megalitik yang masih kuat, di mana batu-batu alam disusun sedemikian rupa untuk kepentingan ritual. Tata letak situs yang berada di pertemuan sungai Citanduy dan Cimuntur juga menunjukkan kearifan lokal dalam memilih lokasi strategis untuk pertahanan dan ekonomi.

Daftar Artefak Utama di Situs Karangkamulyan

Nama ObjekDeskripsi FungsiNilai Sejarah
PancalikanSinggasana batu berbentuk persegiTempat duduk raja saat bermusyawarah
Sanghyang BedilSusunan batu berbentuk ruanganTempat penyimpanan senjata atau alat upacara
CikahuripanMata air keramatTempat penyucian diri bagi keluarga kerajaan
Panyabungan AyamArea terbuka berbatuLokasi legenda sabung ayam Ciung Wanara

Prasasti Kawali dan Warisan Kepemimpinan Prabu Niskala Wastu Kancana

Beralih ke wilayah Ciamis lainnya, tepatnya di Astana Gede Kawali, terdapat sekumpulan prasasti yang dikenal sebagai Prasasti Kawali. Terdapat enam buah prasasti yang ditemukan di area ini. Yang paling menonjol adalah Prasasti Kawali I yang berisi amanat tentang pentingnya menjaga kebajikan dalam memerintah. Peninggalan kerajaan pajajaran di lokasi ini menekankan pada aspek moralitas dan etika kekuasaan.

Prabu Niskala Wastu Kancana, yang namanya disebut dalam prasasti ini, dikenal sebagai raja yang membawa kedamaian dan kemakmuran dalam waktu yang lama. Tulisan pada prasasti tersebut mengajak rakyatnya untuk berbuat baik agar tetap jaya di dunia. Pesan-pesan moral ini menunjukkan bahwa peradaban Sunda kuno sudah memiliki sistem nilai yang sangat maju, mengutamakan kedamaian di atas ekspansi militer yang agresif.

Prasasti Kawali Astana Gede Ciamis
Prasasti Kawali yang berisi pesan moral dan etika kepemimpinan dari masa Kerajaan Galuh-Pajajaran.

Naskah Kuno sebagai Warisan Intelektual Pajajaran

Selain peninggalan berupa batu dan situs fisik, peninggalan kerajaan pajajaran yang sangat berharga adalah manuskrip atau naskah kuno. Naskah seperti Carita Parahyangan, Fragmén Carita Parahyangan, dan Siksa Kandang Karesian menjadi sumber primer bagi para peneliti. Melalui naskah-naskah ini, kita bisa mengetahui struktur birokrasi, jenis-jenis pekerjaan, hingga filsafat hidup masyarakat Sunda kala itu.

  • Carita Parahyangan: Menceritakan sejarah raja-raja Sunda dari masa ke masa dengan narasi yang semi-literer.
  • Siksa Kandang Karesian: Sebuah naskah didaktis yang berisi pedoman hidup, etika, dan pengetahuan umum (ensiklopedia kuno).
  • Bujangga Manik: Naskah perjalanan seorang resi Sunda yang mendeskripsikan topografi Pulau Jawa secara mendetail pada abad ke-15.

Keberadaan naskah-naskah ini membuktikan bahwa tradisi literasi di lingkungan keraton Pajajaran sudah sangat berkembang. Mereka tidak hanya mengandalkan tradisi lisan, tetapi juga mendokumentasikan pengetahuan di atas daun lontar atau nipah, yang syukurnya beberapa masih tersimpan rapi di perpustakaan nasional maupun internasional.

Situs Kebon Kopi dan Prasasti Muara Cianten

Di daerah Ciampea, Bogor, terdapat dua peninggalan yang sering dikaitkan dengan masa transisi atau pengaruh Pajajaran di wilayah Bogor Barat. Prasasti Kebon Kopi II (yang kini telah hilang namun catatannya tersimpan) sempat menyebutkan tentang "Raja Sunda". Sementara itu, Prasasti Muara Cianten yang berada di tepi sungai Ciaruteun menunjukkan eksistensi pemukiman padat di pinggiran sungai besar sebagai urat nadi transportasi.

Meskipun beberapa prasasti di Bogor Barat berasal dari era Kerajaan Tarumanegara, namun wilayah ini terus dihuni hingga masa Pajajaran. Hal ini menunjukkan kontinuitas peradaban yang stabil di tanah Jawa Barat. Pola pemukiman yang mendekati sumber air menjadi ciri khas dari peninggalan kerajaan pajajaran dalam membangun pusat-pusat komunitas.

Situs Arkeologi Peninggalan Pajajaran di Bogor
Sisa-sisa struktur bangunan yang diyakini merupakan bagian dari kompleks ibu kota Pakuan Pajajaran.

Pertahanan Benteng Alam dan Parit Pakuan

Salah satu pencapaian rekayasa teknik yang paling luar biasa dari Kerajaan Pajajaran adalah sistem pertahanan ibu kota Pakuan. Menurut catatan penjelajah Portugis, Tome Pires, kota ini dikelilingi oleh benteng kayu yang kokoh. Namun, secara arkeologis, yang tersisa adalah benteng alam berupa jurang dalam yang dibentuk oleh sungai Ciliwung dan Cisadane.

Untuk memperkuat pertahanan di sisi selatan yang terbuka, raja membangun parit-parit buatan yang sangat luas. Sisa-sisa parit ini masih bisa ditemukan di beberapa titik di Kota Bogor. Sistem pertahanan ini membuat Pakuan Pajajaran menjadi kota yang sulit ditembus selama ratusan tahun, sebelum akhirnya runtuh akibat serangan dari kesultanan-kesultanan Islam di Banten dan Demak pada tahun 1579.

Melestarikan Marwah Warisan Sunda di Masa Depan

Keberadaan berbagai peninggalan kerajaan pajajaran di atas bukan sekadar objek wisata sejarah, melainkan jembatan untuk memahami filosofi Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh yang menjadi akar kebudayaan Sunda. Upaya konservasi terhadap situs-situs ini menghadapi tantangan besar, mulai dari tekanan pembangunan perkotaan hingga kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian artefak autentik.

Vonis akhir terhadap kondisi peninggalan ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Digitalisasi naskah kuno dan revitalisasi situs arkeologi seperti Batutulis harus menjadi prioritas agar identitas sejarah tidak hilang ditelan zaman. Sebagai bangsa yang besar, menghargai sisa-sisa kejayaan peninggalan kerajaan pajajaran adalah langkah krusial untuk memastikan nilai-nilai luhur prabu Siliwangi tetap hidup dalam sanubari generasi mendatang. Kita tidak hanya mewarisi batu, tapi kita mewarisi semangat kejayaan yang harus terus dikobarkan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow