Stasiun Tanjung Priok Simbol Kejayaan Maritim dan Arsitektur Klasik

Stasiun Tanjung Priok Simbol Kejayaan Maritim dan Arsitektur Klasik

Smallest Font
Largest Font

Stasiun Tanjung Priok merupakan salah satu monumen transportasi paling mengesankan yang terletak di Jakarta Utara. Berdiri megah tepat di seberang Pelabuhan Tanjung Priok, stasiun ini bukan sekadar tempat transit bagi penumpang kereta api, melainkan sebuah saksi bisu perkembangan ekonomi dan logistik Indonesia sejak masa kolonial Belanda. Bagi siapa pun yang melintasi kawasan pelabuhan, fasad putih bersih dengan gaya arsitektur yang dominan akan segera menarik perhatian, membawa imajinasi kembali ke awal abad ke-20 saat kawasan ini menjadi gerbang utama masuknya komoditas dunia ke Pulau Jawa.

Sebagai salah satu stasiun dengan status Cagar Budaya, Stasiun Tanjung Priok memegang peranan vital dalam menghubungkan pusat kota dengan salah satu pelabuhan tersibuk di Asia Tenggara. Meskipun sempat mengalami pasang surut operasional, pesona bangunannya tidak pernah pudar. Kehadirannya kini menjadi magnet bagi pecinta sejarah, fotografer, hingga pengguna harian KRL Commuter Line yang menghargai estetika bangunan tua. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai sejarah, detail arsitektur, hingga fungsi modern dari stasiun yang sering disebut sebagai kembaran Stasiun Jakarta Kota ini.

Sejarah Panjang Pembangunan Stasiun Tanjung Priok

Pembangunan Stasiun Tanjung Priok yang kita lihat sekarang sebenarnya merupakan bangunan generasi kedua. Stasiun pertama dibangun pada tahun 1885 oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api negara milik pemerintah kolonial Belanda. Tujuan awalnya sangat spesifik, yakni memfasilitasi pengiriman logistik dari Pelabuhan Tanjung Priok ke pusat kota Batavia (sekarang Jakarta). Namun, seiring dengan meningkatnya volume perdagangan dan aktivitas pelabuhan di awal tahun 1900-an, stasiun kecil tersebut dianggap tidak lagi memadai.

Pada tahun 1914, seorang arsitek ternama bernama C.W. Koch mulai merancang bangunan baru yang lebih megah dan luas. Pembangunan ini memakan waktu bertahun-tahun dan baru resmi diselesaikan pada tahun 1925. Peresmiannya bertepatan dengan momen bersejarah lainnya, yaitu pembukaan jalur kereta listrik pertama di Hindia Belanda yang menghubungkan Tanjung Priok dengan Meester Cornelis (Jatinegara). Hal ini menjadikan stasiun ini sebagai salah satu pionir modernisasi transportasi di Asia pada zamannya.

Interior megah Stasiun Tanjung Priok bergaya Art Deco
Kemegahan interior Stasiun Tanjung Priok yang mencerminkan kejayaan arsitektur kolonial Belanda.

Selama berpuluh-puluh tahun, stasiun ini melayani kapal-kapal pesiar mewah yang berlabuh di dermaga terdekat. Penumpang dari Eropa biasanya langsung turun dari kapal dan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api menuju pusat kota atau ke wilayah pedalaman seperti Bandung. Inilah yang menyebabkan stasiun ini didesain dengan fasilitas mewah pada zamannya, termasuk restoran dan area tunggu yang sangat luas untuk menampung tamu-tamu mancanegara.

Kemegahan Arsitektur Art Deco dan Struktur Bangunan

Salah satu aspek yang membuat Stasiun Tanjung Priok begitu istimewa adalah gaya arsitekturnya yang mengusung aliran Art Deco dengan sentuhan fungsionalisme. Bangunan ini dicirikan oleh penggunaan garis-garis tegas, langit-langit tinggi, serta jendela-jendela besar yang memungkinkan pencahayaan alami masuk secara maksimal. Keunikan ini memberikan kesan luas dan agung bagi siapa saja yang berada di dalamnya.

Struktur utama bangunan menggunakan beton bertulang dan kerangka baja yang sangat kuat. Salah satu elemen yang paling menonjol adalah penggunaan kaca patri atau stained glass pada beberapa bagian jendela, meskipun sebagian telah rusak seiring berjalannya waktu. Lantai stasiun yang menggunakan ubin bermotif klasik juga menambah kesan nostalgia. Dari sisi teknis, stasiun ini memiliki banyak peron yang dilindungi oleh atap melengkung (overkaping) raksasa, yang dirancang untuk melindungi penumpang dari panas dan hujan saat berpindah dari kapal ke kereta.

"Stasiun Tanjung Priok adalah representasi dari ambisi kolonial Belanda untuk menjadikan Batavia sebagai pusat logistik dunia. Setiap sudut bangunannya menceritakan efisiensi sekaligus kemewahan."

Dibandingkan dengan stasiun besar lainnya di Jakarta, Tanjung Priok memiliki tata ruang yang sangat simetris. Pintu masuk utama terletak di bagian tengah, yang mengarah langsung ke aula utama sebelum penumpang diarahkan ke peron-peron di bagian belakang. Struktur ini mirip dengan desain stasiun-stasiun besar di Eropa pada akhir abad ke-19, menunjukkan betapa majunya pemikiran arsitektural C.W. Koch saat itu.

Fungsi Strategis dan Perbandingan dengan Stasiun Lain

Walaupun kini fungsinya lebih banyak terfokus pada transportasi komuter, Stasiun Tanjung Priok tetap memegang peran penting dalam sistem logistik nasional. Letaknya yang terintegrasi dengan pelabuhan memungkinkan jalur ini digunakan untuk pengiriman kontainer dalam volume besar, meskipun jalur logistik biasanya dipisahkan dari area penumpang demi keamanan dan kenyamanan.

AspekStasiun Tanjung PriokStasiun Jakarta Kota
Gaya ArsitekturArt Deco / FungsionalismeArt Deco / Nieuwe Zakelijkheid
Tahun Diresmikan1925 (Bangunan Baru)1929
Jumlah Peron8 Jalur12 Jalur
Fungsi UtamaAkses Pelabuhan & KomuterPusat Hub Kota & Antar Kota
StatusCagar BudayaCagar Budaya

Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun Stasiun Jakarta Kota (Beos) sering dianggap sebagai yang terbesar, Stasiun Tanjung Priok memiliki usia bangunan yang sedikit lebih tua dalam versi bangunan modernnya. Keduanya merupakan mahakarya yang menjaga identitas sejarah Jakarta di tengah modernisasi yang sangat cepat.

Fasilitas Layanan dan Rute KRL Commuter Line Saat Ini

Setelah sempat tidak melayani penumpang umum selama beberapa tahun di awal dekade 2000-an, Stasiun Tanjung Priok akhirnya diaktifkan kembali secara penuh pada tahun 2010. Langkah ini merupakan bagian dari upaya PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk mengurangi kemacetan di jalan raya menuju kawasan industri dan pelabuhan. Saat ini, stasiun ini melayani rute KRL Commuter Line Pink Line yang menghubungkan Tanjung Priok dengan Jakarta Kota.

Fasad luar Stasiun Tanjung Priok yang ikonik
Struktur luar stasiun yang masih kokoh dan menjadi landmark di kawasan Jakarta Utara.

Beberapa fasilitas yang tersedia bagi penumpang antara lain:

  • Area parkir yang cukup luas bagi pengendara motor dan mobil.
  • Mesin tiket otomatis (Vending Machine) dan loket layanan manual.
  • Toilet bersih dan fasilitas mushola yang terawat.
  • Akses integrasi dengan layanan TransJakarta (Halte Tanjung Priok).
  • Ruang tunggu yang sejuk karena sirkulasi udara bangunan tua yang baik.

Bagi pelancong, menggunakan KRL menuju stasiun ini adalah cara termurah dan tercepat untuk menikmati wisata sejarah di Jakarta Utara. Hanya dengan biaya perjalanan yang sangat terjangkau, Anda sudah bisa menikmati pemandangan arsitektur kelas dunia tanpa harus membayar tiket masuk museum.

Tips Berkunjung dan Eksplorasi Wisata Sekitar

Jika Anda berencana mengunjungi Stasiun Tanjung Priok untuk sekadar berfoto atau mempelajari sejarahnya, disarankan untuk datang pada pagi hari di akhir pekan. Suasana stasiun yang cenderung lebih sepi dibandingkan hari kerja akan memudahkan Anda mengambil foto dari berbagai sudut tanpa terganggu oleh mobilitas penumpang yang padat. Namun, perlu diingat bahwa untuk masuk ke area peron, Anda tetap harus memiliki kartu uang elektronik yang aktif.

Suasana peron Stasiun Tanjung Priok saat ini
Area peron yang luas melayani penumpang KRL Commuter Line rute Tanjung Priok - Jakarta Kota.

Berikut adalah beberapa tips saat berkunjung ke lokasi ini:

  1. Gunakan transportasi umum seperti KRL atau TransJakarta untuk menghindari kemacetan parah di kawasan pelabuhan.
  2. Kenakan pakaian yang nyaman namun sopan, mengingat stasiun ini adalah fasilitas publik yang aktif.
  3. Mintalah izin kepada petugas keamanan jika ingin mengambil foto menggunakan kamera profesional (DSLR/Mirrorless).
  4. Jangan melewatkan eksplorasi ke area sekitar, seperti Pelabuhan Sunda Kelapa atau kawasan Kota Tua yang bisa ditempuh dalam satu rute perjalanan.

Kesimpulan Mengenai Urgensi Pelestarian Stasiun

Keberadaan Stasiun Tanjung Priok adalah pengingat penting bahwa Indonesia pernah memiliki infrastruktur transportasi yang sangat modern pada masanya. Menjaga kelestarian bangunan ini bukan hanya tugas pemerintah atau PT KAI, melainkan juga masyarakat umum dengan cara turut menggunakan layanannya dan tidak merusak fasilitas yang ada. Dengan tetap beroperasinya stasiun ini, nilai sejarahnya akan terus hidup dan dapat dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.

Sebagai penutup, bagi Anda yang mencari pengalaman berbeda di Jakarta, cobalah luangkan waktu untuk menaiki kereta menuju ujung utara kota ini. Biarkan dinding-dinding tinggi dan atap melengkung Stasiun Tanjung Priok bercerita tentang masa lalu yang megah, sementara di luar sana, aktivitas pelabuhan modern terus berdenyut sebagai jantung ekonomi Indonesia.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow