Kerajaan di Jawa dan Jejak Sejarah Peradaban Nusantara
Pulau Jawa telah lama menjadi pusat gravitasi politik, ekonomi, dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara. Sejarah mencatat bahwa kemunculan berbagai kerajaan di Jawa bukan sekadar tentang perebutan kekuasaan, melainkan sebuah proses pembentukan jati diri bangsa yang kaya akan nilai-nilai luhur. Sejak abad-abad awal masehi, tanah Jawa yang subur berkat rangkaian gunung berapi telah mengundang para pendahulu kita untuk membangun sistem pemerintahan yang kompleks, mulai dari corak agraris hingga maritim yang disegani di mancanegara.
Memahami perjalanan panjang ini membawa kita pada penelusuran identitas yang mendalam. Keberadaan kerajaan-kerajaan ini meninggalkan warisan yang tidak lekang oleh waktu, mulai dari sistem tata kota, hukum adat, hingga bangunan monumental yang masih berdiri kokoh hingga hari ini. Dalam artikel ini, kita akan menyelami lapisan demi lapisan sejarah yang membentuk pondasi sosial masyarakat Jawa modern, sekaligus melihat bagaimana pengaruh kekuasaan kuno tersebut masih terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Akar Peradaban Awal di Tanah Jawa
Perjalanan sejarah dimulai dengan munculnya entitas politik tertua yang tercatat dalam berbagai prasasti. Salah satu yang paling menonjol adalah Kerajaan Tarumanegara yang berpusat di wilayah Jawa Barat sekitar abad ke-4 hingga ke-7 Masehi. Di bawah kepemimpinan Raja Purnawarman, kerajaan ini berhasil membangun sistem irigasi canggih melalui penggalian Sungai Chandrabaga dan Gomati, sebuah bukti nyata bahwa teknologi hidrolik sudah dikuasai sejak lama untuk menunjang sektor pertanian.
Prasasti sebagai Bukti Otentik
Keberadaan peradaban awal ini bukan sekadar mitos. Melalui Prasasti Ciaruteun, kita dapat melihat jejak kaki Raja Purnawarman yang dianalogikan sebagai kaki Dewa Wisnu, melambangkan kekuasaan mutlak sekaligus perlindungan terhadap rakyatnya. Selain Tarumanegara, di Jawa Tengah muncul Kerajaan Kalingga yang dipimpin oleh Ratu Shima. Beliau dikenal karena ketegasannya dalam menegakkan hukum, menciptakan stabilitas yang luar biasa sehingga keamanan rakyat sangat terjamin pada masa itu.

Era Keemasan Mataram Kuno dan Majapahit
Memasuki periode abad ke-8, dinamika politik bergeser ke pedalaman Jawa Tengah dengan berdirinya Kerajaan Mataram Kuno. Periode ini sering disebut sebagai zaman keemasan pembangunan candi. Dua dinasti besar, yakni Sanjaya yang beragama Hindu dan Syailendra yang beragama Buddha, menunjukkan koeksistensi yang harmonis. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya dua monumen terbesar dunia dalam waktu yang relatif berdekatan, yakni Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Setelah Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur dan berkembang menjadi Medang, Kediri, hingga Singasari, puncak kejayaan kerajaan di Jawa akhirnya tercapai pada masa Kerajaan Majapahit. Didirikan oleh Raden Wijaya setelah berhasil mengusir pasukan Mongol, Majapahit berkembang menjadi imperium raksasa di bawah komando Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Melalui Sumpah Palapa, Gajah Mada bertekad menyatukan Nusantara di bawah panji Majapahit, sebuah visi geopolitik yang melampaui zamannya.
| Aspek Perbandingan | Mataram Kuno | Majapahit |
|---|---|---|
| Pusat Kekuasaan | Jawa Tengah (Abad 8-10) | Jawa Timur (Abad 13-16) |
| Corak Ekonomi | Agraris Dominan | Agraris-Maritim Kontinental |
| Peninggalan Utama | Borobudur & Prambanan | Gapura Bajang Ratu & Kitab Negarakertagama |
| Tokoh Utama | Rakai Panangkaran, Balitung | Hayam Wuruk, Gajah Mada |
Majapahit bukan hanya tentang kekuatan militer, tetapi juga kemajuan intelektual. Kitab-kitab sastra seperti Sutasoma karya Mpu Tantular melahirkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang kemudian menjadi pilar kebangsaan Indonesia modern. Keberhasilan Majapahit mengelola perdagangan rempah-rempah internasional menjadikannya salah satu titik terpenting dalam jalur sutra maritim.

Transisi Menuju Kesultanan Islam
Runtuhnya Majapahit pada awal abad ke-16 menandai babak baru dengan masuknya pengaruh Islam secara masif. Kesultanan Demak muncul sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa di bawah pimpinan Raden Patah. Transisi ini tidak terjadi melalui penaklukan berdarah, melainkan proses akulturasi yang halus oleh para Wali Songo. Budaya lama tidak dihapus, melainkan diberi nafas baru sesuai dengan ajaran Islam, seperti yang terlihat pada arsitektur Masjid Agung Demak.
Kebangkitan Mataram Islam
Dari sisa-sisa kejayaan Demak dan Pajang, muncullah Kesultanan Mataram (Mataram Islam) yang didirikan oleh Panembahan Senopati. Di bawah pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Mataram mencapai puncak kejayaannya. Beliau tidak hanya fokus pada ekspansi wilayah, tetapi juga menjadi budayawan yang menciptakan Kalender Jawa—sebuah perpaduan unik antara penanggalan Saka dan Hijriah. Keberanian Sultan Agung dalam menyerang VOC di Batavia menunjukkan jiwa kedaulatan yang sangat tinggi dari kerajaan di Jawa pada masa itu.
"Sejarah bukan sekadar kumpulan angka tahun, melainkan cermin besar yang menunjukkan siapa kita dan ke mana kita akan melangkah sebagai sebuah bangsa."
Namun, campur tangan politik kolonial melalui taktik devide et impera akhirnya memicu perpecahan. Melalui Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Mataram terbagi menjadi dua yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Hingga kini, kedua entitas ini tetap lestari sebagai pusat pelestarian budaya Jawa yang diakui secara internasional.

Masa Depan Warisan Peradaban Jawa
Melihat kembali perjalanan panjang kerajaan di Jawa, kita dapat menarik benang merah bahwa ketahanan sebuah bangsa terletak pada kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan akar budaya. Dari sistem irigasi Tarumanegara hingga diplomasi kebudayaan Mataram Islam, semuanya memberikan pelajaran berharga tentang manajemen kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Warisan ini bukan sekadar benda mati berupa batu candi, melainkan nilai filosofis yang terkandung dalam tata krama, kesenian, dan cara pandang hidup masyarakat.
Vonis akhir dari sejarah ini adalah pentingnya menjaga integritas budaya di tengah arus globalisasi. Mempelajari jejak kerajaan di Jawa seharusnya tidak hanya menjadi rutinitas akademis, tetapi juga menjadi inspirasi untuk membangun Indonesia yang lebih mandiri dan berkarakter. Dengan menghargai sejarah, kita tidak hanya menghormati leluhur, tetapi juga menyediakan kompas moral bagi generasi mendatang agar tetap teguh berpijak pada identitas asli nusantara yang gemilang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow