Tinggi Gunung Everest Terbaru dan Fakta Geologi Menarik
Tinggi gunung Everest selama puluhan tahun telah menjadi subjek perdebatan ilmiah, ekspedisi heroik, dan keajaiban geologi yang tak henti-hentinya memukau dunia. Sebagai titik tertinggi di planet kita, angka yang merepresentasikan ketinggiannya bukan sekadar data statistik, melainkan simbol pencapaian manusia dalam memahami batasan fisik Bumi. Secara resmi, berdasarkan kesepakatan terbaru antara Nepal dan Tiongkok, tinggi gunung Everest kini ditetapkan pada angka 8.848,86 meter di atas permukaan laut.
Ketinggian ini mencerminkan dinamika bumi yang terus bergerak. Terletak di perbatasan antara Nepal dan Daerah Otonomi Tibet, Tiongkok, gunung ini berada di jantung Pegunungan Himalaya yang megah. Pembaruan data terakhir pada tahun 2020 memberikan kepastian bagi komunitas ilmiah internasional setelah bertahun-tahun spekulasi mengenai dampak gempa bumi besar yang melanda wilayah tersebut pada tahun 2015 terhadap elevasi puncaknya.

Sejarah Pengukuran Tinggi Gunung Everest dari Masa ke Masa
Upaya untuk menentukan secara akurat tinggi gunung Everest telah dimulai sejak pertengahan abad ke-19 melalui proyek ambisius yang dikenal sebagai Great Trigonometrical Survey. Pada tahun 1856, Andrew Waugh, Surveyor General India saat itu, mengumumkan bahwa Puncak XV (nama awal Everest) memiliki ketinggian 29.002 kaki (8.840 meter). Pengukuran ini sangat luar biasa akurat mengingat teknologi yang tersedia pada zaman tersebut hanyalah teodolit dan perhitungan matematika manual.
Nama Everest sendiri diambil dari pendahulu Waugh, yaitu Sir George Everest, meskipun yang bersangkutan sebenarnya berkeberatan karena namanya sulit diucapkan dalam bahasa lokal. Seiring perkembangan teknologi, angka 8.848 meter menjadi standar yang diakui secara luas sejak tahun 1954 setelah survei oleh India. Namun, angka ini terus ditinjau ulang seiring dengan munculnya teknologi GPS dan satelit yang lebih presisi.
"Everest bukan hanya sebuah gunung; ia adalah laboratorium geologi raksasa yang terus tumbuh dan berubah di bawah kaki kita." - Seorang Pakar Geodesi Internasional.
Kesepakatan Baru Antara Nepal dan Tiongkok
Pada Desember 2020, sebuah pengumuman bersejarah dilakukan secara virtual oleh kementerian luar negeri Nepal dan Tiongkok. Mereka menyepakati angka 8.848,86 meter sebagai tinggi resmi terbaru. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan pengukuran India tahun 1954 (8.848 m) dan lebih tinggi dari pengukuran Tiongkok tahun 2005 (8.844,43 m) yang saat itu hanya menghitung tinggi bebatuan tanpa lapisan salju.
Penyamaan persepsi ini sangat penting karena sebelumnya kedua negara memiliki standar berbeda mengenai apakah lapisan salju (snow cap) harus disertakan dalam total ketinggian. Keputusan akhirnya adalah menyertakan lapisan salju sebagai bagian integral dari profil tinggi gunung Everest.
Mengapa Tinggi Gunung Everest Terus Berubah?
Fenomena perubahan tinggi pada Everest disebabkan oleh dua faktor utama: aktivitas tektonik dan perubahan iklim. Himalaya terbentuk karena tabrakan antara Lempeng India dan Lempeng Eurasia. Lempeng India terus bergerak ke arah utara dengan kecepatan sekitar 5 sentimeter per tahun, yang secara teoritis terus mendorong Everest semakin tinggi ke langit.
Namun, pertumbuhan ini tidak terjadi tanpa hambatan. Proses erosi karena angin kencang di ketinggian ekstrem dan pengaruh gravitasi bekerja secara berlawanan. Selain itu, peristiwa seismik besar seperti gempa bumi dapat menyebabkan penurunan tanah secara mendadak atau justru pengangkatan kerak bumi yang signifikan di area tertentu.

Dampak Gempa Bumi Gorkha 2015
Gempa bumi berkekuatan 7,8 Magnitudo yang mengguncang Nepal pada tahun 2015 memicu kekhawatiran global bahwa Everest mungkin telah menyusut. Data satelit awal menunjukkan adanya pergeseran tanah di sekitar Kathmandu, namun dampaknya terhadap puncak Everest memerlukan verifikasi lapangan yang mendalam. Survei tahun 2020 adalah jawaban langsung atas kekhawatiran tersebut, yang membuktikan bahwa Everest tidak hanya mempertahankan ketinggiannya tetapi secara teknis mengalami sedikit peningkatan elevasi.
Metode Canggih dalam Pengukuran Ketinggian Modern
Menentukan tinggi gunung Everest bukan sekadar menarik meteran dari kaki gunung ke puncak. Diperlukan kombinasi antara metode tradisional dan teknologi mutakhir:
- Trigonometri Tingkat Lanjut: Menggunakan teodolit laser untuk mengukur sudut dari berbagai titik dasar di daratan rendah.
- Sistem Satelit Navigasi Global (GNSS): Pendaki ahli membawa perangkat penerima sinyal satelit ke puncak untuk mendapatkan data koordinat dan ketinggian yang sangat presisi.
- Ground-Penetrating Radar (GPR): Digunakan untuk mengukur ketebalan lapisan salju di atas puncak batu, sehingga para ilmuwan bisa mengetahui tinggi batu murni sekaligus tinggi total dengan salju.
- Leveling Gravimetri: Memperhitungkan variasi gravitasi bumi di lokasi tersebut untuk menentukan permukaan laut rata-rata yang akurat sebagai titik nol.
| Tahun Survei | Lembaga Pengukur | Hasil Ketinggian (Meter) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 1856 | Great Trigonometrical Survey | 8.840 m | Pengukuran awal (Puncak XV) |
| 1954 | Survey of India | 8.848 m | Menjadi standar dunia selama dekade |
| 2005 | State Bureau of Surveying (Tiongkok) | 8.844,43 m | Hanya menghitung tinggi batuan pudar |
| 2020 | Nepal & Tiongkok (Joint) | 8.848,86 m | Ketinggian resmi terbaru saat ini |
Tantangan Fisik dan Lingkungan di Puncak Dunia
Ketinggian Everest membawa tantangan yang tidak main-main bagi siapa pun yang berani mendakinya. Di atas 8.000 meter, pendaki memasuki apa yang disebut sebagai Death Zone atau Zona Kematian. Di wilayah ini, tekanan atmosfer sangat rendah sehingga oksigen hanya tersedia sekitar sepertiga dari kadar oksigen di permukaan laut. Tanpa bantuan oksigen tambahan, tubuh manusia akan mengalami kegagalan fungsi organ secara perlahan.
Suhu di puncak dapat turun hingga di bawah -60 derajat Celsius, dengan kecepatan angin yang setara dengan badai kategori 5. Hal ini membuat operasional perangkat pengukuran GPS menjadi sangat sulit. Baterai cepat habis, dan para surveyor harus bekerja dalam jendela waktu yang sangat sempit sebelum cuaca buruk datang menerjang.

Peran Penting Suku Sherpa
Dalam setiap misi pengukuran tinggi gunung Everest, peran suku Sherpa tidak dapat dikesampingkan. Mereka adalah pahlawan di balik layar yang memiliki adaptasi genetik untuk hidup di ketinggian. Sherpa membantu mengangkut peralatan ilmiah yang berat, memasang tali pengaman, dan memastikan para surveyor internasional dapat menjalankan tugasnya dengan aman di medan yang sangat berbahaya.
Keagungan Everest yang Tak Tergantikan
Memahami tinggi gunung Everest lebih dari sekadar menghafal angka 8.848,86 meter. Ini adalah pengingat bahwa planet kita adalah entitas yang hidup dan dinamis. Setiap milimeter pertumbuhan Everest adalah bukti kekuatan kosmik yang bekerja di bawah kerak bumi, sementara setiap upaya manusia untuk mengukurnya adalah bukti rasa haus akan pengetahuan yang tak terpadamkan.
Meskipun teknologi satelit di masa depan mungkin akan memberikan angka yang lebih detail lagi, Everest tetap akan berdiri tegak sebagai tantangan terbesar bagi para petualang dan ilmuwan. Bagi kita, Everest adalah mercusuar ketahanan alam yang harus dijaga kelestariannya, terutama di tengah ancaman pemanasan global yang mulai mencairkan gletser-gletser abadi di sekitarnya. Pada akhirnya, menjaga tinggi gunung Everest dalam catatan sejarah adalah tentang menghormati keajaiban alam yang paling megah di muka Bumi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow