TPU Menteng Pulo dan Jejak Arsitektur Sejarah di Jantung Jakarta
TPU Menteng Pulo bukan sekadar tempat peristirahat terakhir bagi warga Jakarta, melainkan sebuah narasi visual yang menceritakan lapisan sejarah panjang ibu kota. Terletak strategis di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, kompleks pemakaman ini menjadi kontras yang menarik di tengah kepungan gedung pencakar langit dan kemacetan pusat bisnis. Bagi masyarakat lokal, tempat ini mungkin dikenal sebagai taman pemakaman umum biasa, namun bagi para pecinta sejarah dan arsitektur, kawasan ini menyimpan salah satu situs peringatan perang paling sakral di Indonesia.
Kawasan ini terbagi menjadi dua bagian besar, yakni taman pemakaman umum yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pemakaman kehormatan Belanda (Ereveld) yang dikelola oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda (OGS). Harmonisasi antara fungsi sosial dan fungsi historis inilah yang membuat TPU Menteng Pulo memiliki daya tarik unik. Melangkah masuk ke area ini, pengunjung akan langsung merasakan perubahan atmosfer dari kebisingan kota menuju keheningan yang penuh khidmat, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan tata letak makam yang rapi.

Sejarah dan Evolusi TPU Menteng Pulo
Pembangunan TPU Menteng Pulo tidak lepas dari perkembangan tata kota Jakarta pasca-kemerdekaan dan masa kolonial akhir. Khusus untuk bagian Ereveld, lahan ini mulai dibuka pada tahun 1947 sebagai bentuk penghormatan bagi para tentara KNIL dan warga sipil Belanda yang gugur selama masa pendudukan Jepang dan Revolusi Fisik. Letaknya yang berada di tanah berbukit kecil memberikan sirkulasi udara dan pandangan yang berbeda dibandingkan dengan pemakaman lain di Jakarta yang cenderung datar.
Arsitek di balik keindahan tata letak Ereveld Menteng Pulo adalah Lt. Col. H.A. van Oerle dari Dinas Pemakaman Militer. Ia merancang area ini tidak hanya sebagai kuburan, tetapi sebagai taman peringatan yang penuh simbolisme. Seiring berjalannya waktu, lahan di sekitarnya berkembang menjadi taman pemakaman umum untuk mengakomodasi kebutuhan warga Jakarta Selatan akan lahan makam yang layak dan tertata. Saat ini, TPU Menteng Pulo menjadi salah satu paru-paru kota yang tersisa di tengah padatnya pembangunan kawasan Kuningan dan Casablanca.
Arsitektur Unik Gereja Simultan
Salah satu elemen yang paling menonjol di kompleks pemakaman ini adalah keberadaan Gereja Simultan. Bangunan ini memiliki desain yang sangat spesifik dan jarang ditemukan di tempat lain. Gereja ini dibangun dengan konsep ekumenis, di mana tujuannya adalah untuk melayani berbagai denominasi Kristen serta memberikan ruang bagi upacara peringatan lintas agama. Arsitekturnya yang bergaya modernis awal dengan atap yang tinggi memberikan kesan megah namun tetap rendah hati.
Di dalam Gereja Simultan ini, pengunjung dapat melihat daftar nama korban perang yang tidak memiliki makam fisik atau yang jenazahnya tidak pernah ditemukan. Bangunan ini juga sering menjadi titik pusat upacara peringatan tahunan setiap tanggal 4 Mei (Dodenherdenking) untuk mengenang para korban perang. Selain gereja, terdapat pula Columbarium, sebuah bangunan khusus untuk menyimpan guci berisi abu jenazah, yang arsitekturnya menyatu dengan estetika keseluruhan kompleks.
Detail Operasional dan Biaya Pemakaman
Sebagai fasilitas publik, TPU Menteng Pulo dikelola secara profesional di bawah pengawasan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta. Bagi warga yang ingin menggunakan fasilitas pemakaman di sini, terdapat prosedur administratif yang harus diikuti sesuai dengan Peraturan Daerah yang berlaku. Penting bagi ahli waris untuk memahami bahwa lahan makam di Jakarta tidak dapat dimiliki secara pribadi, melainkan menggunakan sistem sewa lahan yang diperpanjang secara berkala.
| Kategori Layanan | Durasi Sewa | Perkiraan Biaya (IDR) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Sewa Tanah Makam (Blok AA1) | 3 Tahun | 100.000 | Prioritas warga DKI Jakarta |
| Sewa Tanah Makam (Blok A1) | 3 Tahun | 80.000 | Sesuai ketersediaan lahan |
| Izin Penggunaan Tanah Makam (IPTM) | Perpanjangan | 40.000 - 100.000 | Dapat diurus via PTSP |
| Layanan Ambulans Jenazah | Sekali Pakai | Gratis - Berbayar | Tergantung fasilitas RS/Pemerintah |
Biaya yang tercantum dalam tabel di atas adalah retribusi resmi yang disetorkan ke kas daerah. Sangat disarankan bagi keluarga untuk mengurus administrasi secara mandiri melalui kantor pengelola TPU atau melalui aplikasi JAKEVO untuk menghindari praktik pungutan liar. Selain biaya sewa lahan, keluarga juga perlu mempertimbangkan biaya perawatan rumput tahunan agar kondisi makam tetap rapi dan asri sesuai standar keindahan TPU Menteng Pulo.

Etika Berkunjung dan Wisata Sejarah
Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang ke TPU Menteng Pulo untuk mengagumi arsitekturnya atau melakukan riset sejarah. Namun, perlu diingat bahwa ini adalah tempat yang sakral bagi banyak orang. Pengunjung diwajibkan untuk menjaga ketenangan dan tidak melakukan aktivitas yang mengganggu kekhusyukan keluarga yang sedang berziarah. Pengambilan foto untuk keperluan komersial atau profesional biasanya memerlukan izin tertulis dari pihak pengelola atau yayasan terkait.
- Gunakan pakaian yang sopan dan tertutup sebagai bentuk penghormatan.
- Jangan menginjak gundukan makam atau duduk di atas nisan.
- Jaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan di area taman.
- Minta izin kepada petugas jika ingin memasuki area Gereja Simultan atau Columbarium.
- Pastikan berkunjung pada jam operasional, biasanya dari pukul 07.00 hingga 18.00 WIB.
Bagi Anda yang menyukai fotografi, waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari sekitar pukul 08.00 atau sore hari menjelang matahari terbenam. Cahaya matahari yang menembus celah pepohonan akan memberikan efek dramatis pada barisan nisan putih di area Ereveld, menciptakan komposisi gambar yang sangat kuat dan reflektif.
"Sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, dan Menteng Pulo adalah monumen hidup yang menjaga ingatan kolektif kita tentang harga sebuah kedamaian."
Tips Mencapai Lokasi TPU Menteng Pulo
Mengingat lokasinya yang berada di jantung Jakarta Selatan yang padat, akses menuju TPU Menteng Pulo memerlukan strategi transportasi yang tepat. Lokasi utamanya berada di Jalan Menteng Pulo, yang dapat diakses melalui Jalan Casablanca atau Jalan Saharjo. Jika menggunakan kendaraan pribadi, pastikan untuk memperhatikan jadwal ganjil-genap di jalan protokol sekitarnya.
Untuk pengguna transportasi umum, opsi terbaik adalah menggunakan TransJakarta koridor 6 (Ragunan - Dukuh Atas) dan turun di Halte Departemen Kesehatan, kemudian melanjutkan perjalanan singkat dengan ojek daring. Jika menggunakan KRL Commuter Line, stasiun terdekat adalah Stasiun Tebet atau Stasiun Manggarai. Dari sana, jarak tempuh hanya memakan waktu sekitar 10-15 menit tergantung kondisi lalu lintas.

Menilik Relevansi Menteng Pulo di Masa Depan
Seiring dengan semakin terbatasnya lahan pemakaman di Jakarta, TPU Menteng Pulo kini menghadapi tantangan besar dalam hal kapasitas. Namun, nilainya sebagai situs warisan sejarah tetap tidak tergantikan. Pemerintah provinsi terus berupaya mengoptimalkan lahan yang ada dengan sistem makam tumpang (plakat) bagi keluarga yang memiliki kerabat di lokasi yang sama. Hal ini dilakukan demi menjaga keseimbangan antara kebutuhan ruang publik hijau dan kebutuhan lahan pemakaman yang terus meningkat.
Sebagai masyarakat, tugas kita adalah memastikan bahwa kelestarian dan kebersihan kawasan ini tetap terjaga. TPU Menteng Pulo bukan sekadar destinasi akhir, melainkan ruang edukasi bagi generasi muda untuk memahami bahwa sejarah kolonial, perjuangan, dan kemanusiaan pernah bersinggungan di tanah ini. Rekomendasi terbaik bagi siapa pun yang ingin merasakan sisi lain Jakarta adalah dengan menyempatkan waktu berjalan kaki di area ini, meresapi setiap nisan yang bercerita, dan menghargai ketenangan yang ditawarkannya di tengah keriuhan metropolitan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow