Makam Kembang Kuning Surabaya dan Sejarah Panjang Masa Kolonial
Makam Kembang Kuning bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan lembaran sejarah yang hidup di tengah riuh rendah Kota Surabaya. Sebagai salah satu kompleks pemakaman tertua dan terluas di Jawa Timur, area ini menyimpan ribuan narasi tentang orang-orang yang pernah membentuk wajah Kota Pahlawan di masa lalu. Dari pejabat kolonial berpangkat tinggi hingga warga sipil yang menjadi saksi bisu transisi zaman, setiap nisan di sini memiliki cerita yang layak untuk digali lebih dalam.
Keberadaan pemakaman ini sering kali luput dari perhatian wisatawan mainstream, namun bagi para pecinta sejarah dan peneliti arsitektur, Makam Kembang Kuning adalah sebuah laboratorium terbuka. Di lahan seluas puluhan hektar ini, kita dapat melihat perpaduan gaya makam Eropa yang megah, nisan Tionghoa yang sarat makna filosofis, hingga makam warga lokal yang mencerminkan kesederhanaan. Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai sejarah, keunikan, hingga peran penting kompleks pemakaman ini dalam konteks tata kota dan warisan budaya Surabaya.

Sejarah dan Asal Usul Makam Kembang Kuning
Sejarah Makam Kembang Kuning tidak dapat dipisahkan dari kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda dalam mengatur tata ruang kota Surabaya pada awal abad ke-20. Sebelum pemakaman ini dibuka secara resmi, pemakaman utama bagi kaum elite Eropa berada di Peneleh. Namun, karena kapasitas Peneleh yang mulai penuh dan isu sanitasi lingkungan yang memburuk di pusat kota, pemerintah kolonial merasa perlu mencari lahan baru di pinggiran kota saat itu.
Kawasan Kembang Kuning dipilih karena lokasinya yang saat itu masih berupa dataran tinggi yang cukup jauh dari permukiman padat. Nama "Kembang Kuning" sendiri diyakini berasal dari kondisi alam sekitar yang banyak ditumbuhi bunga-bunga berwarna kuning, meski ada pula narasi lokal yang menghubungkannya dengan legenda tokoh penyebar agama di wilayah tersebut. Sejak resmi digunakan pada tahun 1917, makam ini menjadi saksi bisu perkembangan Surabaya dari sebuah pelabuhan dagang menjadi kota industri yang modern di tangan Belanda.
Secara struktur organisasi, pemakaman ini dikelola oleh dinas pemakaman kota yang sangat tertib dalam mendata siapa saja yang dimakamkan di sana. Hal ini dibuktikan dengan arsip-arsip lama yang masih tersimpan rapi, meskipun banyak fisik nisan yang kini sudah termakan usia atau mengalami vandalisme. Pentingnya lokasi ini juga terlihat dari bagaimana pemerintah kolonial membangun akses jalan yang memadai menuju area tersebut pada zamannya.
Ereveld Kembang Kuning sebagai Makam Kehormatan Belanda
Salah satu bagian yang paling menonjol dan terjaga dengan sangat baik di dalam kompleks ini adalah Ereveld Kembang Kuning. Ereveld adalah istilah dalam bahasa Belanda yang berarti "Makam Kehormatan". Tempat ini merupakan salah satu dari tujuh makam kehormatan Belanda yang ada di Indonesia dan dikelola langsung oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorlogsgravenstichting - OGS).
Di area khusus ini, bersemayam lebih dari 5.000 korban Perang Dunia II dan korban konflik pasca-perang. Mereka yang dimakamkan di sini bukan hanya tentara Belanda, tetapi juga warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak yang menjadi korban di kamp-kamp internir selama pendudukan Jepang. Keindahan Ereveld Kembang Kuning terletak pada keteraturannya; nisan-nisan putih bersih yang berjejer rapi di atas rumput hijau yang terpangkas sempurna.
"Ereveld bukan sekadar tempat pemakaman, ia adalah monumen peringatan akan harga sebuah perdamaian yang harus dibayar mahal oleh generasi terdahulu."
Di tengah Ereveld, terdapat sebuah monumen yang didedikasikan untuk mengenang mereka yang gugur di laut selama Pertempuran Laut Jawa (Battle of the Java Sea). Setiap tahun, upacara peringatan biasanya diadakan di sini untuk menghormati jasa para prajurit dan korban sipil, menjadikannya salah satu titik diplomasi budaya antara Indonesia dan Belanda.

Pembagian Area dan Keragaman Budaya
Salah satu hal unik yang membuat Makam Kembang Kuning sangat istimewa adalah pluralisme yang terpancar dari pembagian blok pemakamannya. Surabaya sebagai kota pelabuhan yang kosmopolit tercermin jelas di sini. Pemakaman ini dibagi menjadi beberapa zona berdasarkan latar belakang agama dan etnis, yang meliputi:
- Blok Kristen/Eropa: Berisi makam-makam dengan arsitektur barat, seringkali menggunakan marmer berkualitas tinggi dan patung malaikat atau salib yang artistik.
- Blok Tionghoa (Bong Pay): Meskipun tidak sebesar makam Tionghoa di kawasan Gunung Sari, beberapa nisan Tionghoa tua dengan ukiran khas masih dapat ditemukan di sini.
- Blok Umum/Muslim: Seiring berjalannya waktu, area untuk pemakaman warga Muslim terus berkembang pesat mengikuti pertumbuhan populasi lokal di sekitar Kembang Kuning.
- Blok Khusus: Mencakup area bagi tokoh-tokoh tertentu atau korban peristiwa sejarah spesifik.
Keberagaman ini menunjukkan bahwa dalam kematian pun, Surabaya adalah kota yang mampu menampung berbagai identitas. Interaksi antar-budaya ini tidak jarang menciptakan gaya nisan yang hibrida, di mana elemen lokal berpadu dengan estetika kolonial atau oriental.
Spesifikasi dan Data Teknis Pemakaman
Untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai skala dan manajemen makam, berikut adalah tabel data relevan mengenai operasional dan aset di kawasan Kembang Kuning:
| Kategori Informasi | Detail Deskripsi |
|---|---|
| Luas Area Total | Sekitar 43 Hektar (Terbagi beberapa blok) |
| Pengelola Utama | DLH Kota Surabaya & Oorlogsgravenstichting (Ereveld) |
| Tahun Mulai Operasi | Sekitar 1917 (Masa Kolonial Belanda) |
| Kapasitas Estimasi | Lebih dari 100.000 Jenazah (Akumulasi) |
| Fasilitas Pendukung | Akses Jalan Aspal, Mushola, Kantor Pengelola, Area Parkir |
Fenomena Sosial dan Tantangan Modernitas
Di balik nilai sejarahnya yang tinggi, Makam Kembang Kuning saat ini menghadapi tantangan yang kompleks terkait urbanisasi. Area pemakaman yang luas ini kini dikelilingi oleh permukiman padat penduduk. Dinamika sosial di sekitar makam menciptakan fenomena unik; di mana ruang antara yang hidup dan yang mati menjadi sangat tipis. Pada siang hari, kita bisa melihat aktivitas ekonomi warga, seperti pasar kaget atau anak-anak yang bermain di jalanan sekitar makam.
Masalah pemeliharaan nisan tua juga menjadi perhatian serius. Banyak makam Belanda yang keluarganya sudah tidak lagi berada di Indonesia menjadi terbengkalai. Beberapa nisan yang terbuat dari bahan berharga sering kali menjadi sasaran pencurian atau perusakan. Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya melakukan revitalisasi dengan menjadikan beberapa titik sebagai ruang terbuka hijau (RTH) guna menyeimbangkan fungsi pemakaman dengan kebutuhan ekologis kota.
Selain itu, aspek pariwisata sejarah mulai digalakkan. Komunitas pencinta sejarah di Surabaya sering mengadakan tur jalan kaki (walking tour) yang mengeksplorasi sisi tersembunyi Makam Kembang Kuning. Ini adalah langkah positif untuk mengedukasi generasi muda bahwa makam bukanlah tempat yang harus ditakuti, melainkan sumber pengetahuan yang kaya.

Tips dan Panduan Berkunjung ke Makam Kembang Kuning
Bagi Anda yang berencana mengunjungi Makam Kembang Kuning untuk tujuan ziarah maupun wisata sejarah, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan agar kunjungan tetap nyaman dan sopan:
- Waktu Terbaik: Datanglah pada pagi hari sekitar pukul 06.00 hingga 09.00 atau sore hari pukul 15.30 untuk menghindari cuaca panas Surabaya yang terik.
- Pakaian: Gunakan pakaian yang sopan dan tertutup sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat persemayaman terakhir.
- Izin: Jika ingin mengunjungi area Ereveld, pastikan untuk melapor kepada petugas jaga di gerbang khusus Ereveld. Untuk pengambilan foto komersial atau penelitian, sebaiknya berkoordinasi dengan dinas terkait di Surabaya.
- Menjaga Kebersihan: Sangat dilarang membuang sampah sembarangan atau duduk di atas nisan, terutama nisan-nisan tua yang kondisinya sudah rapuh.
- Gunakan Pemandu: Jika ingin mendapatkan informasi sejarah yang akurat, bergabunglah dengan komunitas sejarah lokal yang sering mengadakan kegiatan di area ini.
Kesimpulan
Sebagai salah satu situs warisan kolonial yang masih berfungsi hingga hari ini, Makam Kembang Kuning memegang peranan vital dalam identitas Kota Surabaya. Ia bukan sekadar tanah lapang berisi nisan, melainkan sebuah perpustakaan terbuka yang menyimpan data sosiologis, arsitektural, dan sejarah militer. Dari keasrian Ereveld hingga hiruk pikuk pemakaman umum, Kembang Kuning merefleksikan dinamika kehidupan manusia yang terus berputar.
Menjaga kelestarian Makam Kembang Kuning adalah tugas bersama antara pemerintah dan masyarakat. Dengan menghargai keberadaan makam ini, kita tidak hanya menghormati mereka yang telah mendahului kita, tetapi juga menjaga mata rantai sejarah agar tidak terputus bagi generasi mendatang. Surabaya tanpa Kembang Kuning akan kehilangan sebagian besar narasi masa lalunya yang membentuk karakter kota tangguh seperti sekarang ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow