0 Kilometer Bandung dan Jejak Sejarah di Balik Titik Nol
Kota Bandung selalu punya cerita di balik setiap sudut jalannya yang ikonik. Salah satu titik yang paling legendaris dan sarat akan nilai historis adalah 0 kilometer bandung yang terletak di pusat keramaian Jalan Asia Afrika. Titik ini bukan sekadar penanda geografis biasa, melainkan sebuah tonggak sejarah yang menandai lahirnya Kota Kembang di bawah perintah kolonial Belanda. Banyak wisatawan yang melintasi area ini setiap harinya, namun tidak semua menyadari bahwa di balik ubin trotoar yang rapi itu, tersimpan memori panjang tentang kerja paksa, ambisi kekuasaan, dan transformasi sebuah wilayah perkebunan menjadi kota modern yang kita kenal sekarang.
Keberadaan titik nol ini tidak lepas dari pembangunan jalan raya legendaris, De Groote Postweg, yang membentang dari Anyer hingga Panarukan. Saat Anda berdiri di trotoar depan Kantor Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat, Anda sebenarnya sedang berada di jantung sejarah. Di sinilah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pernah menancapkan tongkatnya dan memberikan perintah yang mengubah arah sejarah Jawa Barat selamanya. Memahami makna di balik 0 kilometer bandung berarti kita sedang menghargai setiap tetes keringat para leluhur yang membangun kota ini di bawah tekanan kolonialisme yang keras.
Asal-Usul Titik Nol Bandung yang Legendaris
Sejarah 0 kilometer bandung bermula pada awal abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1810. Saat itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, sedang menjalankan proyek ambisius pembangunan Jalan Raya Pos sepanjang 1.000 kilometer. Proyek ini bertujuan untuk mempercepat komunikasi dan mobilitas militer di Pulau Jawa guna mengantisipasi serangan Inggris. Ketika pembangunan sampai di wilayah yang kini menjadi Bandung, Daendels menyeberangi Sungai Cikapundung dan berjalan menuju sebuah lokasi di mana jalan raya tersebut akan dibangun.
Menurut catatan sejarah, Daendels menancapkan sebilah tongkat kayu di tanah dan berkata kepada Bupati Bandung saat itu, R.A. Wiranatakusumah II: "Zorg, dat als ik terugkom, hier een stad is gebouwd!" yang artinya, "Usahakan, jika saya kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!". Perintah ini menjadi mandat resmi untuk memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung dari Krapyak (Dayeuhkolot) ke lokasi di sekitar titik nol tersebut. Lokasi baru ini dianggap lebih strategis karena berada tepat di jalur transportasi utama yang sedang dibangun.
"Titik Nol Kilometer bukan sekadar angka di peta, ia adalah saksi bisu transisi Bandung dari hutan belantara menjadi pusat peradaban modern di tatar Sunda."
Pembangunan Jalan Raya Pos (De Groote Postweg)
Pembangunan jalan di sekitar 0 kilometer bandung dilakukan dengan sistem kerja wajib yang sangat membebani rakyat pribumi. Jalan Raya Pos ini menjadi urat nadi ekonomi dan militer yang sangat krusial. Di sepanjang jalur ini, Daendels memerintahkan pembangunan pos-pos penjagaan dan pergantian kuda setiap beberapa kilometer, yang kemudian menjadi cikal bakal pertumbuhan pemukiman di sekitarnya. Wilayah di sekitar titik nol ini kemudian berkembang pesat dengan berdirinya gedung-gedung pemerintahan dan hotel-hotel mewah bagi para pengusaha perkebunan Belanda (Preanger Planters).

Arsitektur dan Simbolisme Monumen Nol Kilometer
Untuk mengabadikan momen bersejarah tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendirikan sebuah monumen kecil yang kini menjadi daya tarik wisata. Di lokasi 0 kilometer bandung, pengunjung dapat melihat sebuah tugu yang disertai dengan sebuah alat berat kuno berupa stoomwals (mesin penggilas uap). Mesin ini bukan sekadar pajangan, melainkan simbol pembangunan infrastruktur jalan di masa lalu. Alat berat berwarna hitam ini memberikan kesan industrial yang kuat dan sering menjadi latar belakang foto bagi para turis yang berkunjung ke Jalan Asia Afrika.
Di sekitar monumen tersebut juga terdapat empat patung tokoh penting yang berjasa dalam sejarah perhubungan dan pembangunan di Jawa Barat. Keberadaan patung-patung ini bertujuan untuk memberikan edukasi visual kepada generasi muda bahwa pembangunan kota tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui proses birokrasi dan teknis yang panjang. Desain area ini dibuat sangat terbuka, menyatu dengan trotoar luas khas Paris van Java, sehingga memudahkan siapa saja untuk berhenti sejenak dan merenungkan sejarah kota ini.
| Fakta Unik | Keterangan |
|---|---|
| Tahun Peresmian | 2004 (Monumen Modern) |
| Lokasi Administratif | Depan Kantor Dinas Bina Marga Jabar |
| Tokoh Utama | Herman Willem Daendels & Wiranatakusumah II |
| Simbol Ikonik | Stoomwals (Mesin Penggilas Uap Kuno) |
Makna Geografis Bagi Pembangunan Kota
Secara teknis, 0 kilometer bandung digunakan sebagai titik acuan pengukuran jarak dari Bandung ke kota-kota lain di Pulau Jawa. Namun, secara tata ruang, titik ini menjadi pusat dari apa yang disebut sebagai 'pusat kota tua'. Dari titik ini, pertumbuhan Bandung menyebar ke arah utara menuju Braga dan ke arah selatan menuju Alun-Alun. Penataan bangunan di sekitar lokasi ini masih mempertahankan langgam arsitektur Art Deco yang sangat populer pada awal abad ke-20, menjadikan kawasan ini sebagai galeri arsitektur terbuka yang sangat indah.

Daya Tarik Wisata di Sekitar Jalan Asia Afrika
Mengunjungi 0 kilometer bandung tidak akan lengkap tanpa mengeksplorasi objek wisata di sekitarnya. Kawasan ini merupakan pusat pariwisata sejarah yang paling padat di Bandung. Hanya dengan berjalan kaki beberapa meter, Anda akan menemukan berbagai destinasi yang memiliki nilai sejarah tinggi. Berikut adalah beberapa tempat yang wajib Anda kunjungi saat berada di kawasan titik nol:
- Museum Konferensi Asia Afrika (KAA): Terletak sangat dekat dengan titik nol, gedung ini adalah tempat berlangsungnya konferensi internasional bersejarah pada tahun 1955.
- Gedung Merdeka: Bangunan megah yang menjadi simbol persatuan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.
- Hotel Preanger & Hotel Savoy Homann: Dua hotel legendaris yang pernah menjadi tempat menginap para tokoh dunia seperti Charlie Chaplin dan para delegasi KAA.
- Jalan Braga: Kawasan perbelanjaan dan kuliner dengan suasana kolonial yang kental, dapat dijangkau hanya dengan 5 menit berjalan kaki.
- Alun-Alun Bandung: Pusat aktivitas masyarakat dengan masjid raya yang memiliki menara kembar ikonik.
Selain bangunan bersejarah, area di sekitar 0 kilometer bandung kini sering diramaikan oleh para seniman jalanan yang mengenakan kostum unik, mulai dari kostum pahlawan hingga hantu lokal. Hal ini menciptakan perpaduan kontras yang menarik antara keseriusan sejarah dan hiburan rakyat modern. Pemerintah kota juga telah merevitalisasi trotoar di kawasan ini dengan menambahkan lampu-lampu jalan bergaya klasik dan kursi taman, sehingga pengunjung dapat duduk santai sambil menikmati suasana malam Bandung yang sejuk.

Tips Berkunjung ke Kawasan Titik Nol
Agar pengalaman Anda mengunjungi 0 kilometer bandung lebih maksimal, ada beberapa tips praktis yang bisa diikuti. Pertama, waktu terbaik untuk datang adalah pada sore hari menjelang matahari terbenam. Pada waktu ini, cuaca tidak terlalu panas, dan lampu-lampu jalan mulai menyala, memberikan efek visual yang dramatis untuk fotografi. Jika Anda datang pada akhir pekan, bersiaplah dengan keramaian karena kawasan ini akan dipadati oleh warga lokal dan wisatawan luar kota.
Kedua, gunakan transportasi umum atau layanan transportasi daring karena lahan parkir di Jalan Asia Afrika sangat terbatas dan sering kali menyebabkan kemacetan. Berjalan kaki adalah cara terbaik untuk menikmati setiap detail arsitektur di kawasan ini. Pastikan untuk menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan di area monumen, guna menjaga kelestarian situs sejarah yang berharga ini bagi generasi mendatang.
Menjelajah Kuliner Legendaris di Sekitarnya
Setelah lelah berfoto di 0 kilometer bandung, Anda bisa memanjakan lidah dengan berbagai kuliner legendaris. Tidak jauh dari lokasi, terdapat warung kopi tertua di Bandung yang menyajikan aroma autentik. Selain itu, ada banyak pedagang kaki lima yang menjajakan jajanan khas Sunda seperti batagor, siomay, dan bandros yang hangat. Kuliner di kawasan ini menawarkan rentang harga yang beragam, dari yang sangat terjangkau hingga kelas restoran mewah di dalam hotel-hotel bersejarah.
Warisan Sejarah yang Tetap Hidup di Tengah Modernitas
Keberadaan 0 kilometer bandung hari ini bukan sekadar menjadi objek foto estetis untuk media sosial, melainkan berfungsi sebagai pengingat akan identitas kota yang dinamis. Dari sebuah titik koordinat yang ditentukan oleh kolonial, Bandung telah bertransformasi menjadi kota kreatif yang inklusif. Titik nol ini mengajarkan kita bahwa pembangunan sebuah peradaban memerlukan visi yang jauh ke depan, namun tidak boleh melupakan akar sejarah yang membentuknya. Bagi siapa pun yang ingin memahami esensi Kota Bandung, melangkahkan kaki di titik nol adalah ritual yang wajib dilakukan.
Sebagai rekomendasi akhir, luangkan waktu lebih lama saat berada di kawasan ini. Jangan hanya terpaku pada tugu monumennya saja, tetapi amatilah interaksi sosial yang terjadi di sekelilingnya. Dari hiruk pikuk kendaraan hingga tawa anak-anak di trotoar, semua itu adalah manifestasi dari kehidupan yang dimulai dari satu titik kecil di tahun 1810. Mengunjungi 0 kilometer bandung adalah bentuk penghormatan kita terhadap perjalanan panjang sebuah kota yang terus tumbuh, berinovasi, dan tetap menjadi tempat yang dirindukan oleh banyak orang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow