0 km Bandung Menjadi Saksi Bisu Titik Awal Kota Kembang

0 km Bandung Menjadi Saksi Bisu Titik Awal Kota Kembang

Smallest Font
Largest Font

Menyusuri jantung Kota Kembang tidak akan lengkap tanpa menginjakkan kaki di 0 km bandung. Lokasi ini bukan sekadar penanda geografis biasa, melainkan sebuah titik sumbu yang membelah sejarah masa lalu dan modernitas masa kini. Terletak tepat di depan Kantor Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat, Jalan Asia Afrika, titik nol kilometer ini sering kali menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin merasakan aura kolonial sekaligus memahami asal-usul berdirinya pusat pemerintahan Bandung. Keberadaannya berkaitan erat dengan ambisi besar pembangunan infrastruktur di masa Hindia Belanda yang mengubah wajah Pulau Jawa selamanya.

Ketika Anda berdiri di area 0 km bandung, Anda sebenarnya sedang berada di atas jejak sejarah De Groote Postweg atau Jalan Raya Pos. Jalan ini membentang sepanjang 1.000 kilometer dari Anyer hingga Panarukan, sebuah proyek ambisius yang digagas oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Titik nol ini menandai momen di mana Bandung mulai bertransformasi dari sebuah permukiman kecil di wilayah dataran tinggi menjadi sebuah pusat kota yang kosmopolitan. Di sinilah denyut nadi pembangunan dimulai, menjadikannya salah satu kawasan paling ikonik di Indonesia dengan deretan bangunan art deco yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Detail patok sejarah 0 km Bandung
Patok besi asli yang menandai titik 0 km Bandung sebagai pusat koordinat pembangunan jalan raya pos.

Jejak Langkah De Groote Postweg di 0 km Bandung

Pembangunan 0 km bandung tidak bisa dilepaskan dari perintah Daendels pada awal abad ke-19. Menurut catatan sejarah, Daendels melakukan inspeksi pembangunan Jalan Raya Pos dan berhenti di tepi Sungai Cikapundung. Sambil menancapkan tongkat kayunya ke tanah, ia mengucapkan kalimat legendaris: "Zorg, dat als ik terugkom, hier een stad is gebouwd!" yang berarti "Usahakan, jika aku kembali, di sini telah dibangun sebuah kota!". Perintah ini menjadi titik tolak kepindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Krapyak (Dayeuhkolot) ke lokasi yang sekarang menjadi pusat kota karena kondisi tanah yang lebih tinggi dan sehat.

Seiring berjalannya waktu, titik nol ini menjadi pusat orientasi bagi pembangunan gedung-gedung pemerintahan dan fasilitas publik. Di sekitar lokasi ini, kita bisa menemukan jejak arsitektur Eropa yang sangat kental. Hal ini bukan tanpa alasan, karena pada masa itu Bandung dirancang sebagai kota hunian bagi warga Eropa, yang kemudian memicu lahirnya julukan Parijs van Java. Setiap sudut di sekitar titik nol menyimpan narasi tentang bagaimana teknologi konstruksi dan estetika Barat berpadu dengan kondisi alam lokal Jawa Barat.

Asal-usul Legenda Tongkat Daendels

Legenda tongkat Daendels sering kali diceritakan secara turun-temurun sebagai mitos pendirian kota. Meskipun secara administratif perpindahan ibu kota memerlukan proses birokrasi yang panjang, momen penancapan tongkat tersebut menjadi simbol otoritas dan visi besar kolonial saat itu. Di titik 0 km bandung ini pulalah, pengerjaan jalan yang melibatkan ribuan pekerja paksa dilakukan di bawah pengawasan ketat pemerintah Hindia Belanda demi memperlancar jalur komunikasi dan pertahanan militer di Pulau Jawa.

Menjelajahi Kawasan Ikonik di Sekitar Titik Nol

Mengunjungi titik nol bukan hanya soal melihat sebuah patok besi atau monumen kecil. Area ini dikelilingi oleh berbagai destinasi sejarah yang jaraknya hanya selemparan batu. Jika Anda berjalan kaki dari 0 km bandung, Anda akan segera menemukan berbagai bangunan bersejarah yang memiliki nilai signifikansi internasional. Berikut adalah beberapa tempat yang wajib dikunjungi saat Anda berada di kawasan pusat kota ini:

  • Gedung Merdeka: Tempat dilaksanakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955.
  • Hotel Savoy Homann: Hotel legendaris dengan gaya arsitektur Streamline Moderne yang pernah menjadi tempat menginap tamu-tamu kenegaraan.
  • Gedung De Vries: Salah satu toko serba ada pertama di Bandung yang kini menjadi bangunan cagar budaya.
  • Alun-alun Bandung: Pusat ruang publik yang kini memiliki hamparan rumput sintetis dan dekat dengan Masjid Raya Jawa Barat.
  • Jalan Braga: Kawasan kuliner dan seni yang mempertahankan nuansa Eropa klasik dengan deretan kafe dan galeri lukisan.

Kawasan ini juga telah direvitalisasi secara berkala oleh Pemerintah Kota Bandung untuk memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki. Trotoar yang lebar, lampu jalan yang estetik, serta kursi-kursi taman bergaya klasik membuat pengalaman menyusuri sejarah di sekitar titik nol menjadi sangat menyenangkan dan Instagramable bagi generasi muda.

Suasana malam di sekitar Jalan Asia Afrika Bandung
Pemandangan malam hari di sekitar kawasan 0 km Bandung yang dihiasi lampu-lampu ikonik dan bangunan bersejarah.

Data Landmark dan Jarak Strategis di Pusat Kota

Sebagai titik koordinat pusat, 0 km bandung menjadi referensi jarak bagi berbagai infrastruktur penting di kota ini. Berikut adalah tabel informasi mengenai jarak titik nol kilometer ke beberapa landmark utama lainnya di Bandung:

Nama LandmarkJarak dari Titik NolKategori
Gedung Merdeka250 MeterSejarah/Museum
Braga City Walk600 MeterPusat Perbelanjaan/Wisata
Stasiun Bandung1.5 KilometerTransportasi Utama
Gedung Sate2.8 KilometerPusat Pemerintahan
Bandara Husein Sastranegara5.2 KilometerTransportasi Udara

Tabel di atas menunjukkan betapa strategisnya lokasi 0 km bandung. Sebagian besar pusat aktivitas wisata dan sejarah dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki, menjadikannya titik awal yang paling direkomendasikan bagi wisatawan yang baru pertama kali berkunjung ke Kota Bandung.

Daya Tarik Estetika dan Wisata Fotografi

Di lokasi titik nol, terdapat sebuah monumen kecil berupa mesin penggiling uap (stoomwals) kuno yang dipajang di sisi jalan. Alat ini merupakan simbol dari pengerjaan keras pembangunan jalan raya di masa lalu. Bagi para pecinta fotografi, monumen ini serta patok 0 km bandung merupakan objek yang sangat menarik. Selain itu, tepat di seberangnya, berdiri tegak patung empat tokoh proklamator dan pahlawan nasional yang menambah kesan patriotik di kawasan ini.

"Bandung bukan sekadar urusan geografis, melainkan melibatkan perasaan yang mendalam bagi siapa saja yang pernah melintasi jalan-jalan bersejarahnya, terutama di pusat titik nol kilometer."

Keindahan kawasan ini semakin terpancar saat senja tiba. Cahaya lampu kota yang memantul di dinding-dinding bangunan tua menciptakan atmosfer yang romantis dan nostalgik. Tidak heran jika banyak pasangan melakukan sesi foto pre-wedding di sekitar sini atau sekadar duduk santai menikmati angin sore Bandung yang sejuk.

Monumen mesin stoomwals di dekat titik nol Bandung
Mesin penggiling uap kuno yang dijadikan monumen pengingat kerja keras pembangunan infrastruktur jalan di Bandung.

Aksesibilitas dan Panduan Berkunjung

Untuk mencapai lokasi 0 km bandung, Anda dapat menggunakan berbagai moda transportasi. Jika Anda menggunakan transportasi umum, carilah angkutan yang melewati jalur Jalan Asia Afrika atau gunakan bus Trans Metro Bandung (TMB). Bagi pengguna kendaraan pribadi, disarankan untuk memarkir kendaraan di kantong-kantong parkir resmi yang disediakan, seperti di area basement Alun-alun Bandung atau di gedung parkir khusus, mengingat parkir di bahu jalan sangat dibatasi untuk menjaga kelancaran lalu lintas.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada pagi hari saat udara masih segar, atau pada akhir pekan di malam hari ketika suasana kota sedang sangat hidup. Pada momen-momen tertentu, seperti peringatan Konferensi Asia Afrika, kawasan ini sering kali ditutup untuk kendaraan bermotor (Car Free Night), memberikan keleluasaan penuh bagi pejalan kaki untuk mengeksplorasi setiap sudut tanpa gangguan polusi suara kendaraan.

Menghargai Warisan Sejarah di Jantung Kota

Eksistensi 0 km bandung adalah pengingat bahwa sebuah kemajuan kota tidak bisa dilepaskan dari fondasi sejarahnya yang panjang. Melalui titik nol ini, kita diajak untuk menghargai setiap keringat dan perjuangan yang dilakukan di masa lampau demi membangun peradaban yang kita nikmati hari ini. Titik nol bukan sekadar akhir dari sebuah jalan raya, melainkan awal dari identitas modern Kota Bandung yang terus berkembang dinamis mengikuti zaman.

Sebagai rekomendasi akhir, kunjungan Anda ke Bandung tidak akan pernah tuntas tanpa menyentuh patok sejarah ini. Jadikanlah 0 km bandung sebagai titik awal petualangan Anda mengeksplorasi keindahan tanah Parahyangan, karena dari sinilah semua cerita hebat tentang Bandung bermula. Dengan menjaga kebersihan dan kelestarian bangunan di sekitarnya, kita turut andil dalam memastikan bahwa warisan sejarah ini tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang sebagai bukti kejayaan arsitektur dan budaya Indonesia.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow